Tuesday, 25 September 2012

Apa Adanya Kamu Sudah Melengkapi Saya

Judul di atas adalah kalimat yang aku ambil dari "Test Pack-The Movie". Niy kejadian nonton filmnya udah minggu lalu, siy, tapi tetep pengen aku ceritain. Oya, buat persiapan nonton Test Pack ini, aku udah bawa tisu banyak. Secara aku udah pernah baca bukunya (yang ngarang namanya Ninit Yunita, bagus deh bukunya) yang mana sangat membuatku termehek-mehek en bolak-balik nangis. Besok paginya Ratna en Ivna menginterogasi kenapa mataku bengkak. Jawabanku bikin mereka hampa, dunk : gara-gara baca buku :p Persiapan lain yang dilakukan adalah update status di BB. Status "Nonton test pack, siap2 tisu yang banyak" ini ternyata menimbulkan persepsi berbeda bagi beberapa orang. Seorang teman bbm "Bukannya ngeceknya pas pagi-pagi baru bangun tidur ya, mbak?" Hadehhh...pasti niy temen engga tahu kalo ada Test Pack yang bukan test pack *apa siy*. Jadinya aku pake acara ngejelasin kalo Test Pack yang aku maksud adalah judul sebuah film, jadi engga perlu nunggu pagi buat ngecek. Hehehe...


(sumber : www.21cineplex.com)
Tokoh sentral dalam film ini adalah sepasang suami istri bernama Rahmat dan Tata yang diperankan oleh Reza Rahadian dan Acha Septriasa. Rahmat dan Tata sudah menikah selama 7 tahun namun tak juga dikaruniai anak. Ibu dari Rahmat alias mertuanya Tata tak henti menanyakan apakah Tata sudah hamil. Tata jadi benar-benar terobsesi untuk punya anak sampai punya koleksi test pack berbagai merek dan berbagai bentuk. Usaha bikin anak jalan terus sambil tak henti memasukkan taoge ke menu makanan cos katanya bagus untuk kesuburan. Karena tak juga berhasil, mereka berkonsultasi ke dokter ahli kandungan. Oleh dokter, setiap harinya Tata diminta menyuntikkan cairan hormon ke dalam tubuhnya yang mana proses itu dinamakan in vitro. Proses in vitro ini membuat psikis Tata menjadi tidak stabil.

Sampai pada akhirnya si dokter menyadari bahwa ada satu tes yang terlewatkan, yaitu tes kesuburan sperma. Hasil tes yang menyatakan bahwa Rahmat mandul ini disembunyikan oleh Rahmat. Dia sangat takut mengecewakan istrinya yang sangat mengharapkan kehadiran seorang anak dalam kehidupan mereka. Pada saat itu ada tokoh lain yang dihadirkan, yaitu Shinta (yang diperankan oleh Renata Kusmanto), pacar masa lalu Rahmat yang baru saja diceraikan oleh suaminya karena tidak bisa mempunyai anak. Karena kesamaan nasib, mereka saling curhat.

Suatu hari Tata menemukan hasil tes yang disimpan rapat oleh Rahmat. Pada saat bersamaan, Tata juga menemukan bahwa Rahmat sedang dekat dengan Shinta sehingga dia marah besar dan ingin bercerai. Akhir ceritanya... hmm, ceritain engga, ya? Engga usah aja, deh, ya. Walau niy fim udah engga tayang di bioskop, siapa tahu ada yang pengen nonton sendiri, entah di DVD ato nunggu filmnya tayang di tivi ato masuk ke entertainment-nya Garuda Indonesia (kayak Broken Hearts-nya Reza Rahadian yang saya tonton waktu perjalanan ke Medan kemarin).

Walau ada beberapa alur cerita yang agak berbeda dengan bukunya, tapi inti dari ceritanya tetap sama. Apalagi aktingnya Reza dan Acha di film ini bagus banget. Chemistry-nya kuat. Aku yang biasanya engga suka ama aktingnya Acha kali ini ngacungin jempol buat dia. Kalo Reza siy, dari dulu juga aku udah nge-fans :p
Oya, ada beberapa kalimat yang aku inget dari film Test Pack itu. Salah satunya yang saya jadiin judul di atas. Kalimat itu diucapkan oleh Rahmat kepada Tata di hari pernikahan mereka. Trus dalam suatu percakapan, dia juga pernah bilang kayak gini : "Tujuan kita nikah kan bukan cuman punya anak, saya nikah sama kamu karena saya sayang sama kamu". Jawabannya Tata : "Saya juga sayang banget sama kamu makanya saya mau kasih kamu anak." :'(

Pada beberapa scene, air mataku kayak mau tumpah saat menontonnya. Tapi nangisnya aku waktu nonton film ternyata engga senangis waktu baca bukunya. Mbrebes mili siy, tapi engga yang sampe sesenggukan gitu. Sia-sia deh bawa tisu banyak-banyak. Tapi tetep aja filmnya mengharukan. Apalagi aku tahu sendiri capeknya batin dalam melakoni proses yang tak kunjung membawa hasil. Yang dirasain Tata sama dengan yang aku rasakan. Bahkan ketidakstabilannya psikisnya juga sama dengan kelabilanku. Kalo dihitung-hitung, kunjungan saya ke RS sudah 8 kali (yang terakhir siang tadi. Hasilnya : sel telur aku masih juga belum bisa dibuahi). Rasa jenuh sudah mulai melanda. Eh, aku jadi inget lagu "When I See You Smile", yang bagian ini niy : 

Sometimes I wanna give up
I wanna give in
I wanna quit the fight...

Ya kayak gitu itu perasaan aku.

Tapi aku juga masih inget kalo aku masih harus bertahan sampai...engga tahu juga sampai kapan. Satu hal yang bikin aku engga terlalu terbebani dengan "trying to conceive" ini adalah waktu aku nanya ke Mr. Banker, gimana kalo kita emang bener-bener engga bisa punya anak. Dia jawab engga papa, yang penting udah berusaha. Itu jawabannya sambil tersenyum menenangkan. Thanks God I have him as my husband *kirim cium jauh ke Makassar*

Jadi aku lanjutin lagunya Bad English tadi...
And then I see you, baby
And everything's alright,
everything's alright

When I see you smile

I can face the world, oh oh,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh,
I see it shining right through the rain
When I see you smile
Oh yeah, baby when I see you smile at me 

Kalo aku rasa-rasain, dalam hidupku ini, aku udah diberi banyak kebahagiaan. Adanya Mr. Banker misalnya. Menikah dengannya adalah hal terindah dalam hidup aku. Orang tuanya yang dekat denganku melebihi kedekatanku dengan orang tuaku sendiri juga adalah satu hal indah yang membawa bahagia. Belum lagi rejeki-rejeki lain yang kita dapatkan. Karier, kesehatan, dan kecukupan materi. Alhamdulillah, Allah SWT udah kasih banyak rejeki untuk kami berdua. Kadang aku merasa kayaknya serakah banget ya, udah dikasih banyak, masih mau minta lagi (baca : anak). Saya jadi inget sebuah paragraf di buku Twivortiare karangan Ika Natassa yang saya baca.
(sumber : www.goodreads.com)
Alex (istri) bertanya : "Hon, seandainya kita nggak berhasil punya anak juga gimana?"

Jawaban Beno (suami) : "Maksud kamu hanya kita berdua aja peluk-pelukan seperti sekarang sampai tua? Aku belum pernah punya anak, jadi belum bisa mendefinisikan berapa besar kebahagiaan yang kita rasakan kalau punya anak... Tapi aku sudah merasakan punya kamu, udah merasakan nggak punya kamu juga. Dan, memiliki kamu seperti sekarang ini buat aku udah seneng banget. Jadi kalau kita punya anak, kebahagiaannya pasti bertambah. Kalau nggak punya, kebahagiaannya nggak berkurang. Tetep seneng banget kayak sekarang. Jadi mindset kamu juga harus sama, ya. The absence of children is not a substraction of happiness. Matematikanya nggak gitu, Lex. Orang-orang cenderung melihat kebahagiaan itu dari apa yang belum mereka punya, padahal seharusnya kebahagiaan itu dilihat dari apa yang kita sudah punya..."

Kesimpulannya : terus berusaha...kalo memang engga berhasil dapat apa yang kita inginkan, kita tetap harus bersyukur akan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang sudah kita miliki.

Kenapa kita mesti kecewa bila tak juga mendapatkan apa yang bahkan kita pun belum pernah memilikinya?

13 comments:

  1. #mewek ah,,,iho???

    emm sepertinya cerita paragraf pertama diskip aja kali ya ,,,hehehe

    but eniwei you go girl!!!!!!!

    ReplyDelete
  2. Hahaha...oke, kayanya mengganggu keseluruhan cerita ya? Hihihi...Makasiy *hug*

    ReplyDelete
  3. Kenapa kita mesti kecewa bila tak juga mendapatkan apa yang bahkan kita pun belum pernah memilikinya?

    --
    suka suka suka...

    ReplyDelete
  4. @ vivien : itu kata bijak dari saya hari ini :p
    @ javas : kamu udah 17 tahun, kan ? kalo udah, segera cari dvd-nya ;)

    ReplyDelete
  5. jadi nyesel kemaren direkomen buku ika natassa ga beli... gara2 partnernya ga mau beliin :'(

    ReplyDelete
  6. Iki lapo jenenge atek anonymous, yiek -_- wah, kudu dianggarkan iku :D

    ReplyDelete
  7. mbak,. aku terharu baca tulisan ini. Semangat ya mbak, semoga usahanya di berkahi Allah SWT, aamiin :)

    ReplyDelete
  8. Wah, jadi terharu ya..cup cup...
    Makasiy doa dan semangatnya, yaaa :)

    ReplyDelete
  9. Mbak isti,, aku lg TTC juga , dan PCO juga, trus kesasar kesini deh, trus baca perjalanan TTC nya trus pgn nangis mewek gulung2,, pokoknya aku bangetttttt rasanyaaaa,,, kyk di jleb jleb di atiku mbaakk,,,

    huhu,,
    tak doain cepet di kasih momongan ya mbak,, walaupun cuma kata2,, tp bnerr2 aku doain mbak isti,,


    hugs rere

    ReplyDelete
  10. Hai Rere... Makasiy ya, udah berbagi cerita disini :-*
    Jadi sekarang progress promilnya gimana, Re? kita saling mendoakan ya *hugs*

    ReplyDelete
  11. Hai Mbak Isti :)

    Lagi gugling2 tentang insem, akhirnya nyasar kesini. Tulisan yg tentang Twitvortiare bikin aku berkaca2 :') Aku dan suami sudah 8 tahun menikah, dan alhamdulillah sampai sekarang kami masih kayak pacaran aja berdua (iya, musti disyukuri kan? ;)). Soal punya anak, dari getol usaha, sampai pasrah aja semua udah dilakuin. Kalau emang belum rejeki, mau dipaksa kayak apa juga, sulit kan? Yang penting nikmati hidup ya mbak, bersyukur terus. Dan alhamdulillah kita punya suami2 yang sabar :)

    Kalau memang rejeki, dan berjodoh, insyaAllah semua akan terjadi dengan sendirinya, aamiin.

    -Wulan

    ReplyDelete
  12. Hai Mba Wulan...
    Udah baca buku Twivortiare-nya, Mba? Recommended banget loh ;) FYI, bentar lagi bakal keluar Twivortiare 2.
    Wah, salut banget ama Mba Wulan dan suami. Moga langgeng selalu ya, Mba :)
    Saya sepakat banget ama pendapatnya Mba Wulan. Alhamdulillah sampai saat ini saya juga masih enjoy-enjoy aja, Mba, walo belum ada anak. Tetap berusaha tapi juga pasrah akan hasilnya. Mudah-mudahan kita berdua segera dikaruniai momongan ya, Mba. Amin...

    ReplyDelete