Friday, 9 November 2012

Hasil Tes ASA (Anti-Sperm Antibody)

Setelah HSG, tes berikutnya adalah analisis sperma. Berdasar saran dari seorang teman, aku dan Mr. Banker memutuskan untuk tes sperma lengkap. Sekalian tes Halo dan ASA, gitu. Laboratorium Prodia belum menyediakan tes sperma lengkap seperti yang kita inginkan. Sehingga kita memilih Makmal Reprobiomedicine, yang banyak direkomendasikan oleh para dokter (kata mbah gugel). Lokasi laboratorium terpadu ini sebenarnya berada di kompleks FKUI di Salemba. Kita sempat dateng ke Makmal yang di FKUI, ternyata tutup. Aku lupa kalo temenku pernah bilang, sementara ini Makmal menempati Rukan Sentra Salemba Mas. Jadi kita sempat kecele. Hehehe... Oya,  sebagai perbandingan dalam hal biaya, tes sperma biasa "hanya" 250 ribu rupiah, sedangkan tes sperma lengkap (termasuk Halo dan ASA) biayanya Rp 1.270.000,- Tes sperma ini termasuk yang dibilang awkward moment. Engga usah dijelasin lebih lanjut, lah, ya, kenapa aku bisa bilang awkward.
 
Banyak faktor yang dianalisis dalam tes sperma. Mulai dari volume, konsentrasi, pergerakan, morfologi, dan masih banyak lagi. Total ada 26 item yang muncul di hasil analisisnya.  Analisis sperma dilakukan dengan alat Sperm Quality Analyzer V. Kalo tes Halo/DNA Fragmentasi, tujuannya untuk mendeteksi adanya fragmentasi DNA pada kepala spermatozoa, yang menyebabkan spermatozoa tidak mampu membuahi atau zigot yang dihasilkan tidak baik. Sedangkan tes ASA (Anti-Sperm Antibody) bertujuan untuk mengetahui apakah aku memiliki antibodi anti sperma yang tinggi.  

Untuk hasil tes sperma dan Halo-nya, kayanya kudu nunggu persetujuan Mr. Banker dulu buat nge-share disini. Jadi yang aku ceritain tentang tes ASA-nya aja, ya. Tes ASA yang dilakukan di Makmal mengunakan metode Husband’s Sperm Auto-aglutination Test (HSAaT).

Ada beberapa metoda pemeriksaan antibodi antisperma (ASA) yang pernah dilakukan di seluruh dunia, antara lain Kibrick (1952), Franklin dan Dukes (1964), dan Friberg (1974). Namun, ketiga metoda tersebut sudah tidak digunakan lagi karena dianggap kurang akurat. 

Pada tahun 2002, dr. Indra G. Mansur, DHES, SpAnd., androlog dan imunolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, mengembangkan metoda baru yang dikenal dengan nama Husband’s Sperm Auto-aglutination Test (HSAaT). Prinsip metoda ini adalah melihat reaksi penggumpalan (autoaglutinasi) antara serum darah istri terhadap sperma suaminya sendiri. Reaksi penggumpalan yang terjadi menunjukkan ada antibodi yang diproduksi tubuh istri sebagai reaksi penolakan terhadap sel sperma suaminya. 

Untuk melakukan tes, sampel darahku harus diambil terlebih dahulu. Waktu darahku diambil, petugasnya sempat khawatir aku takut ama jarum suntik. Aku jawab aja, "Udah biasa donor darah, kok, mba. Jadi biasa aja." Engga boong siy. Tapi alasan lebih tepatnya adalah aku udah terlalu terbiasa dengan suntuikan. Beberapa tahun lalu, waktu aku masih sangat aware dengan perawatan muka, kalo lagi jerawatan (yang mana hampir selalu terjadi, dan aku baru tau ternyata PCO-ku berkaitan erat dengan ini), dokterku biasa kasih suntikan. Biar engga ngerasa sakit, aku pernah iseng ngitung berapa kali suntikan dilakukan terhadap wajahku. Hasilnya : 14 kali, dalam waktu engga sampe 5 menit. Jadi, aku udah engga ada perasaan takut sama sekali terhadap alat suntik.

Oke, balik ke penjelasan tentang ASA. Dalam keadaan normal, setiap wanita yang pernah terpapar sperma akan membentuk antibodi terhadap sperma. Hal tersebut wajar sebab tidak ada wanita yang menghasilkan sperma sehingga sperma dianggap sebagai zat baru/benda asing layaknya bakteri, virus, jamur, dan kuman lainnya yang harus dilawan. Antibodi tersebut disebut Antibodi Anti-Sperma (ASA = Anti-Sperm Antibody). Tetapi pada beberapa perempuan, kekebalan tubuhnya sangat tinggi hingga membentuk ASA dalam jumlah yang sangat besar.

Pada tingkat yang tidak terlalu tinggi (tingkat yang wajar), dengan kualitas sperma yang baik, maka kehamilan sangat mungkin terjadi. Namun demikian, bila kadar ASA terlalu tinggi, dengan kualitas sperma yang sangat baik pun sulit sekali terjadi kehamilan. 

Hasil tesku adalah kadar ASA-nya terlalu tinggi. Penggumpalan (aglutinasi) sperma oleh serum darahku masih terjadi sampai pengenceran 4096. Baru pada pengenceran 8192 kali, hasilnya negatif. Padahal normalnya, penggumpalan terjadi maksimal hanya sampai pengenceran 128 kali. Menerima hasil tes di atas lumayan bikin nyesek. Aku nangis (seperti biasa, sendirian) selama di taksi dalam perjalanan kembali ke kantor. Sampe di kantor, nangis lagi.  Kayanya masalah PCO aja udah bikin stres, ternyata masih ditambah lagi. Untungnya aku punya banyak temen yang engga pernah bosen kasih semangat.

Oya, aku memang baru mendapat penjelasan dari petugas lab. Belum sampai konsultasi ke dokter. Ntar aja aku diskusiin sama dokter, berbarengan ama jadwal kontrol untuk pengobatan PCO-ku. Tapi dari hasil browsing, penanganan untuk penolakan sperma itu dapat dilakukan berbagai terapi , antara lain dengan pemakaian kondom, pemberian obat imunosupresif ataupun terapi imunoseluler.

Pada terapi kondom, suami istri memakai kondom saat berhubungan seksual selama kurang lebih 3-6 bulan. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terpaparnya tubuh istri dengan sperma sehingga tidak membentuk antibodi anti-sperma. Terapi tersebut banyak menuai protes dari kalangan suami karena jangka terapi yang lama serta berkurangnya kenikmatan berhubungan.

Di samping terapi kondom, dapat pula diberikan obat-obatan imunosupresif, seperti golongan kortikosteroid. Obat-obat tersebut bertujuan menekan sistem kekebalan tubuh istri dengan harapan walau terpapar sperma, tubuh istri tidak membentuk antibodi anti-sperma. Walaupun demikian, kerja obat-obat tersebut bersifat global. Artinya, respon imun istri akan ditekan secara menyeluruh termasuk terhadap bakteri, virus, parasit. Hal tersebut menyebabkan istri lebih mudah sakit.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, masalah kadar ASA yang tinggi tersebut dapat ditangani dengan terapi sel darah putih suami yang sudah “diproses”, lalu disuntikkan ke dalam tubuh istri. Inilah yang disebut metoda PLI (Paternal Leukocyte Immunization). Metoda ini termasuk imunoterapi seluler, dan bertujuan antara lain untuk:
  • Menurunkan kadar antibodi antisperma istri terhadap suami sehingga memungkinkan terjadinya proses pembuahan dan kehamilan.
  • Menekan aktivitas sel-sel yang bersifat sebagai “pembunuh alami” (natural killer cells) di dalam tubuh istri sehingga sel-sel sperma suami tidak dibunuh.
  • Menekan timbulnya reaksi autoimun pada tubuh calon ibu di awal proses kehamilan yang dapat menyebabkan keguguran berulang karena embrio dianggap sebagai benda asing yang ditolak tubuh calon ibu ibu.
PLI bekerja spesifik hanya menurunkan antibodi anti-sperma sehingga wanita yang menjalani terapi tersebut tetap mampu menghasilkan kekebalan terhadap virus, bakteri, parasit, dll. Selain itu, PLI bekerja optimal sehingga walaupun terpapar sperma, efek PLI tetap lebih kuat. Namun demikian, menghindari paparan terhadap sperma dapat membantu menurunkan kadar ASA lebih cepat.

Sekian cerita saya malam ini. Tetap semangat!

11 comments:

  1. gimana mbk sekarang sudah hamil belu..tetap semangat ya..

    ReplyDelete
  2. Masih belum...hehe...mohon doanya ya...
    Makasiy udah mampir :)

    ReplyDelete
  3. cemangad tyus y mb.... q minggu kmren jg HSG .. Alhamdulillah hasilny patent... .. moga2 qt2 cpt dkasih momongan y mb :).. Amiin

    ReplyDelete
  4. Salam kenal Mba Atik...Wah, Alhamdulillah kalo hasilnya patent ya, Mba...
    Amin, kita saling mendoakan dan menyemangati ya, Mba *hugs*

    ReplyDelete
  5. Sekarang sudah hamilkaah mbak?

    ReplyDelete
  6. Hai Emy...
    Beberapa waktu aku lalu sempat hamil melalui inseminasi, sayangnya karena janin tumbuh di luar rahim, jadi harus dikeluarkan :'(

    ReplyDelete
  7. slam kenal mba isti, mau tnya kmrn sempat PLI brp kali ya? krn dr hasil tes ASA saya msh positif pd pengenceran 8192. Oya, dr Indra itu praktek dmn aja ya mba? stlh ASA turun mba isti nyoba insem sm dr indra ato lgs program BT di dr Karel kah?
    Btw barakallah smoga si kembar 3 dan mba isti sehat selalu serta dilancarkan s.d kelahiran nanti.
    *yanti

    ReplyDelete
  8. Salam kenal juga, mba Yanti :) Kebetulan RS Bunda tempat saya program engga pro sama ASA, mba, jadi engga ada treatment apa-apa dari RS. Tapi dokter saya juga mempersilakan kalo saya mau PLI, namun saya belum mencobanya.
    Saya belum sampe BT, mba, kemarin sudah insem di dr. Anggia di RS Bunda, sayangnya karena janin tumbuh di luar rahim, jadi kehamilan engga bisa diteruskan.
    Tentang dr. Indra G. Mansur, info yang saya dapat dari webnya yaitu http://indramansur.com, beliau praktek di RSIA Sayyidah, RS Budhijaya, dan Klinik Sam Marie Wijaya. CMIIW ya...
    Makasiy doanya, moga Mba Yanti juga sehat selalu dan dimudahkan untuk programnya :)

    ReplyDelete
  9. Mohon info tempat test asa di semarang di mana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon maaf, kebetulan saya kurang tahu tempat tes ASA di kota lain :(

      Delete