Sunday, 18 August 2013

Path, Repath, and Spread the Love!

Dari semalem udah gatel pengen nulis, tapi apa daya kantuk sudah tak tertahankan. Gara-gara buka Path trus liat komen temen A di status temen B. Si A nuduh B sebagai "setan ripet" tapi Si B mengelak. Geli aja gitu baca komen-komenan tadi. Kalo Si B emang beneran suka nge-repath foto ato gambar temennya, trus kenapa? Masalah gitu, buat Si A? Bisa jadi, siy :)

Sekedar cerita sedikit tentang Path ya. Untuk saat ini, aplikasi Path hanya bisa digunakan oleh pengguna Iphone dan Android, tapi denger-denger pencipta Path udah mulai ambil ancang-ancang buat memasuki dunia Blackberry. Memproklamirkan diri sebagai private social network dengan mengusung tagline "Be closer with the ones you love", Path benar-benar membatasi fungsi sharing penggunanya hanya pada teman, kerabat ataupun orang-orang terdekat yang ada dalam lingkaran pertemanannya. Itupun hanya dibatasi 150 orang aja. Kalo engga berteman, jangan harap bisa ngintip isi Path-nya.

Apa aja yang bisa di-sharing di dalamnya (istilahnya "moments") pada dasarnya sama kayak Facebook ato Twitter. Bisa sharing status, foto, ato lokasi (check in) en bisa nge-tag temen juga (ato mention kalo di Twitter). Perluasan fasilitas narsisnya adalah sharing lagu yang lagi didengerin, film yang lagi ditonton, ato buku yang lagi dibaca. Path adalah social media yang setia, karena cuma di Path kita bisa update status "sleeping at..." buat ngasihtau kalo kita mau bobo. Ntar kalo bangun, kita juga bisa update status "awake at..." buat ngasihtau kalo kita udah bangun.

setianya Path

Tentang istilah "ripet", merupakan pelesetan dari "repath" yang sejenis dengan retweet pada twitter. Bedanya, repath hanya berlaku untuk gambar ato foto. Repath niy gampang banget caranya. Cukup dengan menekan lebih lama (sekitar 2 detik) pada gambar ato poto temen, ntar bakal muncul pilihan "Save Photo" ato "Repath".

Menekan lebih lama ini juga diperlukan kalo kita mau ngehapus temen yang ada di friendlist Path kita. Pastinya buka menu "Friends" dulu, trus klik nama temen. Kalo nge-kliknya cuma bentar, yang bakal muncul adalah menu private message. Dengan menekan sedikit lebih lama pada nama temen (sekitar 2 detik juga kayak mau Repath), ntar bakal muncul pertanyaan "Are you want to stop sharing with ...?". Opsi jawabannya cuma dua : "no" ato "yes". Tapi Alhamdulillah, sampe saat ini aku belum pernah ngehapus temen *edisi jadi malaikat*.

Analisis singkat mengenai Path en social media lainnya, pernah dianalogikan dengan apik oleh Darina Danil, seorang seleb blog di tulisannya yang berjudul The Social House.

Kalo seorang temen meng-upload gambar trus di-repath ama temennya, bisa jadi teman lain yang berada dalam lingkaran pertemanan yang sama akan merasa sedikit terganggu. Soalnya gambar yang sama akan muncul dua kali di timeline Path-nya. Kalo temen yang nge-repath gambar itu ternyata banyak, ya hampa juga. Buka timeline, yang muncul gambar itu-itu aja. Bikin bosen :p Jadi bisa dimaklumi juga kalo teman A sampe punya istilah "setan ripet" yang ditujukan pada teman B.

Aku sendiri engga pernah mempermasalahkan satu gambar yang bisa muncul berkali-kali di timeline Path-ku. Kalo gambar itu mengandung sesuatu yang lucu ato bermakna, kadang aku juga minta izin si empunya gambar untuk me-repath-nya. Kalopun engga aku repath, aku save aja, gitu. Lumayan menghibur, siy... Kayak gambar-gambar di bawah ini :

mukanya si kucing engga nguatin! #Life of Pi

uhuk, uhuk :p

ya ampun, ekspresi si mas-nya kliatan sholehah banget gitu...

Ada juga edisi cerita bijak kayak di bawah ini :

tentang takdir

Kalo aku nge-repath, maksudnya ya untuk aku bagikan kepada temen-temenku yang lain, yang engga berada di lingkaran pertemanan yang sama dengan si empunya gambar. Pemikiranku siy, berbagi candaan ato kebijaksanaan kepada sebanyak mungkin orang engga dosa, tho? Asal engga sering-sering aja, gitu. Kasian juga ama temen-temen yang mungkin udah eneg karena kudu dicekokin gambar yang sama berulang-ulang.

Gambar terbaru yang sudah meramaikan dunia per-Path-an beberapa waktu yang lalu adalah sebuah kutipan dari detik.com, seperti di bawah ini :


Aku termasuk salah satu yang me-repath-nya. Maksudku, untuk mencari pembenaran bagi diri sendiri yang memang penyuka traveling. Tujuan lainnya, kalo Mr. Banker lagi iseng berkunjung ke Path-ku (istilahnya memang "visit"), en dia nemuin quote di atas, diharapkan dia bisa lebih memahami hobiku, mengerti alasan sekaligus menerima kenyataan tentang istrinya yang emang suka ngabur ini :p

Beberapa temen juga me-repath gambar ini. Motif me-repath mungkin berbeda-beda *halah, nge-repath aja perlu motif*. Mungkin buat ngerayu suaminya biar diajakin traveling. Ato pengen menyebarkan virus traveling ke temen-temennya. Ato pengen nunjukin kalo dia punya passion untuk traveling. Ato memotivasi dirinya sendiri untuk bisa nabung demi bisa keliling dunia. Ato bahkan bisa jadi motifnya sama kayak aku. Hehehe... Yang jelas, aku pikir engga ada salahnya punya impian untuk melanglang buana. Kalo niatan udah ada, selanjutnya usaha buat mewujudkannya. Jangan cuma mimpi doang. Plus doa juga dunk. Ntar bakal ada jalannya kok *edisi bijak*

Kembali ke repath-repath-an. Bagi sebagian orang, melihat "dorongan semangat untuk traveling sewaktu muda" di atas muncul di timeline-nya adalah menyebalkan. Mungkin dia termasuk yang bete karena banyak temennya yang nge-repath gambar tadi. Ato bisa jadi dia ngerasa bete karena untuk bisa menuruti saran yang ada disana bukanlah hal yang mudah. Bisa karena faktor biaya, faktor waktu, faktor kesibukan, faktor keberadaan anak, ato faktor-faktor laen yang hanya dia dan Tuhan yang tau.

Kemudian, dibuatlah versi terbaru untuk gambar yang pertama tadi :


Menurutku, si editor (ato orang-orang yang nge-repath gambar ini) semacam curhat karena engga punya duit buat traveling. Pengennya siy, aku ngomong "IDR" alias "itu derita loe". Tapi aku engga sejahat itu kok *senyum manis*.

Yang bikin bete, si pe-repath juga menge-tag temen-temen yang nampilin gambar ini di timeline-nya en juga temen-temen laen yang bahkan engga ada hubungannya. Aneh. Plus nyebelin cos bikin notifikasi (istilahnya "activity") jadi penuh -_-"

Aku siy ngedoainnya dia cepet kaya biar engga usah nyindir temen-temennya yang suka traveling. Tapi jawabannya malah "pas udah kaya, pas udah tua". Lha, lebih aneh lagi niy, didoain kok engga mau :p

Hmm, gini deh. Momen bahagia tiap orang itu beda-beda. Ada yang momen bahagianya adalah bersama keluarga dan anak-anaknya. Ada yang jomblo tapi bahagia dengan pekerjaannya. Ada yang engga punya pekerjaan tapi punya teman-teman yang selalu menyemangatinya. Ada yang engga punya anak tapi bahagia dengan kegiatan traveling-nya *ups, itu aku*

Emm, mungkin ada yang bakal bilang tulisanku ini semacam curhat. Aku sendiri engga tau ini maksudnya apa. Cuma ngerasa harus menuliskannya. Eh, jangan-jangan tulisanku ini berpotensi mengundang Path-war, ya *nyontek istilah twit-war*.  Semoga engga deh. Harapannya siy, teman-teman yang ngerasa dijadikan tokoh dalam tulisan ini, bisa  menyikapinya dengan bijaksana.

Sebagai penutup, aku pernah baca kata-kata bijak di bawah ini :

WE ALL HAVE STORIES TO TELL

Everyone has their own story, their own pain.
Everyone has their own moments of happiness, of suffering, of loneliness, of love, that have shaped them into who they are today.
Everyone has their own story, and everyone deserves someone who is willing to listen to it.
Don't be a dark or sad moment in a person's story. Be a part of their light, of their happy moments, and help them through their dark ones.

Just cheers and spread the love! :-*

No comments:

Post a Comment