Monday, 21 October 2013

It's D-Day...Saatnya Bikin Baby!

Akhirnya datang juga hari itu. Hari untuk pembuatan baby. Hihihi, kayak di pabrik aja jadinya. Hari Jumat 18 Oktober pagi dijadwalkan untuk pengambilan sperma, kemudian siangnya tindakan inseminasi. Btw, kalo di blog lain, kadang nulis sperma itu pake bintang-bintang, tapi aku cuek aja lah ya. Anggep lagi baca artikel kesehatan. Lagian jaman SMA dulu di buku pelajaran Biologi, penulisannya juga engga pake bintang-bintang kan? Hehehe...

Eh, mungkin ada yang masih bingung, apakah inseminasi itu? Berikut definisinya, aku ambil dari sini.

Inseminasi adalah salah satu teknik untuk membantu proses reproduksi dengan cara menyemprotkan sperma yang telah dipreparasi (diproses) ke dalam rahim menggunakan kateter dengan tujuan membantu sperma menuju telur yang telah matang (ovulasi) sehingga terjadi pembuahan. Berbeda dengan bayi tabung, proses pembuahan pada teknik inseminasi terjadi di saluran telur.


Jumat pagi, Mr. Banker nganter aku ke kantor dulu buat absen, trus aku nemenin dia ke BIC (Bunda International Clinic). Lapor ke suster kalo pagi ini dijadwalkan untuk pengambilan sperma. Sama suster di lobi, kita disuruh langsung menemui suster di belakang. Setelah menyerahkan buku merah yaitu buku periksaku, suster meminta kami mengisi formulir. Isiannya cuma tentang nama suami, nama istri, tanggal lahir, alamat, no telp, terus berapa hari engga berhubungan. Oya, sebelum tindakan, memang ada larangan berhubungan selama 3-5 hari. Setelahnya juga engga boleh sampai dipastikan hamil (tapi aturan tentang yang setelahnya ini beda-beda, tergantung kasusnya kali ya). Aku minta Mr. Banker aja yang ngisi secara tulisannya lebih bagus dari aku. Engga lama formulir selesai diisi oleh Mr. Banker.

Kemudian suster bertanya tentang pemilihan gender. Hah, boleh milih tho? Hmm, enaknya cewe ato cowo, ya? Kata Mr. Banker siy, sama aja. Oke, terserah aja sus. Tapi trus aku bilang gini ke Mr. Banker, "Kalo bayi cowo, melahirkannya lebih susah. Jadi gimana kalo cewe aja?" Mr. Banker cuma bisa pasrah. Hihihi, perkara melahirkan itu buat alasan aja siy. Aslinya aku emang pengen baby cewe biar bisa didandanin :p Waktu keesokan harinya aku ngaku ke Mr. Banker alasanku yang berhubungan dengan dandan-mendandani ini, dia langsung hampa.

Sambil mengantri masuk ke ruangan pengambilan sperma, aku update status di BB : "Wah, ternyata bisa milih mau baby cewe ato cowo". Langsung rame dunk, temen-temen pada komen. Kebanyakan bilang minta cewe aja, biar bisa didandanin. Haha, sama aja alasannya. Ada juga yang minta kembar, kayak dia sendiri yang kebetulan kembar cewe-cowo. Kalo kata Fiki, cowo ato cewe sama aja, yang penting nanti baby sama ibunya jadi model di kafeibu. Horeee, baby-nya belum ada, udah dapat kontrak aja neh.
 
Engga lama kemudian, suster mempersilakan kami masuk ke ruang pengambilan sperma. Penjelasan lebih detil tentang ruangan ini bisa dibaca di postingan berikutnya.

Sebelum tindakan yang dijadwalkan jam 12 siang, aku dianterin balik ke kantor trus Mr. Banker melanjutkan perjalanan ke tempat diklatnya.

Oya, lupa bilang. Dari Kamis sore, perutku udah mulai kram. Jumat pagi makin menjadi-jadi. Padahal di kantor aku perlu fotokopi en minta stempel surat ke lantai 2, jadi aku jalan en naik tangganya pelan-pelaaan banget! Lha gimana, kramnya makin parah aja! Btw, kenapa aku memilih balik ke kantor, bukannya nunggu di RS aja sampai saatnya tindakan? Adalah untuk nyelesein kerjaan (engga banyak siy) plus bikin surat pemotongan gaji terkait para pegawai yang ngajuin cicilan di koperasi. Itu surat biasanya dibikin akhir bulan. Tapi tiba-tiba aku inget kalo aku berencana engga ngantor sampe awal bulan depan, jadi mau engga mau, surat-suratnya kudu dibikin sekarang!

Setelah insem, malamnya aku cerita ke Mr. Banker alasanku balik kantor, dia jadi nyesel engga melarangku. Dia mengira aku balik ke kantor tapi engga kerja. Istirahat aja, gitu. Lah, kalo bukan buat kerja, ngapain aku balik ke kantor >.<

Jam 11.25, aku berangkat ke BIC. Jalan ke depan gedung buat nyari taksi tetep pelan-pelaaan banget. Udah kayak siput aja. Nyampe BIC, menemui suster dan memberitahukan jadwal insemku yang jam 12. Susternya udah nawarin buat aku siap-siap ke ruangan, tapi aku bilang aku mau sholat dulu.

Pas balik ke atas lagi, suster ngasih tau kalo Dokter Anggia lagi tindakan, jadi aku diminta nunggu. Suster nanya, aku udah minum banyak apa belum? Lha, emang kenapa gitu? Ternyata, sebelum insem, baiknya memang minum banyak dulu sampe kebelet. Kalo kandung kemihnya penuh, rahimnya bisa keliatan. Hmm, aku engga paham banget, tapi aku turutin deh. Aku pun minum 2 gelas air dari galon yang tersedia (gelasnya ada di laci).

Selama menunggu, aku menghabiskan waktu dengan bbm-an dan whatsapp-an di grup. Seneng banget punya banyak temen yang care. Walo aku sendirian di RS, tapi doa dari suami, keluarga, dan teman-teman mengiringiku. Makasiy untuk semua yang udah kasih semangat *peluk satu-satu*

Tiba-tiba aku merasa kayak Jennifer Lopez di film Back Up Plan yang sendirian ke RS untuk minta inseminasi gara-gara dia pengen punya baby padahal belum menemukan pasangan yang tepat. Jadinya dia pake donor sperma yang dia engga tau siapa (kalo disini, engga halal lah, kalo kayak gitu). Insemnya berhasil en dia punya baby kembar. Semoga aku juga. Amin... :)

sumber dari sini

Ketika jam menunjukkan pukul 13.05, aku diminta masuk ke ruangan dan duduk di kursi pasien. Ini foto ruangan dokternya (aku di ruang no. 4, sebenarnya ini ruangannya Dr. Irham Suhaemi).

banyak foto pasien yang berhasil punya baby

Sambil nunggu dokter, aku duduk bengong. Haduh, mana kebelet pipis pulak! Tapi kalo aku pipis, berarti aku kudu minum lagi. Kok jadi ribet. Ya wes, ditahan aja. Untuk mengalihkan rasa kebelet, aku lanjut chatting di grup. 15 menit kemudian, datanglah suster yang langsung memintaku berada pada posisi siap karena Dokter Anggia sudah menuju ke ruangan.  Oya, hari ini aku emang sengaja pake rok biar engga ribet nyopot en make celana lagi.

kursi pesakitan (kata Mr. Banker)

Dokter menaikkan posisi ranjangku. Kemudian aku mendengar dentingan alat logam yang mestinya adalah suara yang ditimbulkan oleh speculum/cocor bebek/duck bill untuk membuka dan menahan "pintu"nya. Sebelum tindakan, suster sempat memperlihatkan jarum suntik berisi sperma berlabelkan namaku dan nama Mr. Banker untuk memastikan bahwa sperma yang diambil sudah benar.

Berikut ini dialog antara dokter, suster, dan aku  :
Dokter : Berapa banyak selnya? (maksudnya sel sperma setelah diproses)
Suster : 14 juta, Dokter.
Aku : Sebaiknya berapa jumlah minimal yang dibutuhkan, Dokter?
Dokter : 10 juta, Ibu.
Aku : Oke.

Tidak berapa lama, suster mengoleskan cairan ke atas perutku, kemudian menempelkan alat USG disana. Selanjutnya dokter dan suster memperhatikan laptop yang ada di meja. Mungkin untuk memonitor jalannya sperma yang sedang disuntikkan ke dalam rahimku. Mungkin loh, ya. Soalnya aku engga tau juga mereka lagi ngeliatin apa.

Aku : Suster, memangnya saya engga boleh lihat ke layar, ya?
Suster : Boleh aja, kok, Bu.
Aku : Tapi ketutupan badan suster.
Suster : .....

Btw, walopun dimanapun suster itu berdiri, layar laptopnya emang engga mungkin keliatan siy, karena memang dihadapkan ke arah dokter. Apalagi aku dalam posisi berbaring. Pasti suster tadi hampa waktu aku nanya-nanya -_-"

Ilustrasi tindakannya adalah seperti di gambar ini.

sumber dari sini

Tindakannya engga lama, cukup 10 menit saja. Rasanya gimana? Engga gimana-gimana juga siy, biasa aja. Kalo ada yang nanya, apa engga dibius? Memang engga. Lha memangnya engga sakit? Memang engga sakit. Menurutku, tindakan kali ini lancar jaya. Dari awal aku udah rileks siy. Malah bisa sambil ngobrol gitu. Kalo pas engga lagi ngobrol, aku baca Al-Fatihah berulang-ulang aja dalam hati.

Aku inget waktu aku pemeriksaan HSG yang mana aku tegang banget. Kata dokternya aku ngeden (engga sengaja kali ya) sampai-sampai kateter yang dipasang sempat copot trus dipasang ulang. Sempat pendarahan setelah HSG >.<

Selesai tindakan, aku disuruh beristirahat dalam posisi yang sama selama 15-30 menit. Semacam memberi kesempatan sperma untuk mencapai sel telur. Dokter dan suster pun keluar ruangan. Sebelum keluar ruangan, suster sempat melihat sebentar ke buku periksaku.

Suster : Telurnya banyak, ya, Bu. Ada tujuh. Mudah-mudahan jadi kembar.
(Di postingan sebelumnya, aku cerita kalo ada 3 sel telur yang bagus. Namun sebenarnya masih ada 4 lagi yang juga cukup bagus)
Aku : Amin... Suster, nanti kesini lagi kalo saya sudah boleh bangun?
Suster : Iya, Bu.

Kemudian suster tersebut keluar ruangan.

Tidak berapa lama, seorang suster lain masuk untuk mengembalikan buku periksaku serta menyerahkan kertas yang berisikan catatan hasil preparasi sperma. Aku menghabiskan waktu berbaringku dengan meneliti hasil preparasi sperma tersebut.

Setelah kira-kira sudah setengah jam berbaring tapi engga ada suster yang masuk ke ruangan, aku memutuskan untuk bangun sendiri. Secara kaki kanan udah mulai mati rasa karena diangkat sedemikian rupa. Walah, ternyata kursi pasien tadi lumayan tinggi. Berhati-hati aku turun. Jadi agak jinjit untuk bisa mencapai dasar.

Pas aku udah mau keluar ruangan, ada suster yang masuk. Selanjutnya aku menyelesaikan proses pembayaran. Trus sempat ketemu suster lagi untuk menjadwalkan waktu suntikan penguat kandungan (yaitu tanggal 22 dan 25 Oktober). Nama obatnya adalah Pregnyl, kali ini masing-masing 1500 IU. Pregnyl yang mengandung HCG dibutuhkan untuk men-support fase luteal.

Fase luteal atau fase pasca ovulasi adalah empat belas hari terakhir siklus menstruasi setelah ovulasi terjadi. Jika terjadi kehamilan, embrio akan menanamkan diri (implantasi) di endometrium selama fase ini. Jika implantasi tidak terjadi, endometrium mulai rusak dan akhirnya diluruhkan, menjadi perdarahan menstruasi (sumber dari sini). Untuk optimalisasi hasil dari program inseminasi (dan juga bayi tabung), dukungan pada fase luteal memang sangat dibutuhkan.

Aku juga dikasih resep obat yang harus diminum tiap hari yaitu Ascardia 80 mg sebanyak 15 butir (1 kali sehari), Utrogestan 100 mg sebanyak 30 butir (2 kali sehari) dan Utrogestan 200 mg sebanyak 15 butir (1 kali sehari).  Utrogestan merupakan micronised progesterone dimana progesteron adalah hormon steroid yang paling penting pada proses implantasi embrio manusia sampai berfungsinya plasenta. Secara umum, orang-orang menyebut Utrogestan ini sebagai penguat kandungan. Selain HCG (yang akan diberikan lewat suntikan Pregnyl), progesteron juga diperlukan dalam fase luteal.

Oya, kenapa ada 2 macam Utrogestan disini? Utrogestan 100 mg yang dikonsumsi 2 kali sehari merupakan obat yang diminum biasa (dikonsumsi secara oral). Progesteron yang diberikan secara oral memiliki absorbsi rendah karena akan mengalami metabolisme yang cepat di hepar (first-pass liver metabolism). Oleh karena itu dibutuhkan pemberian progesteron intravaginalis (uterine first-pass effect), disini dengan pemberian Utrogestan 200 mg di malam hari menjelang tidur.

First uterine pass effect  adalah suatu konsep pemberian  obat intra vaginal yang ditujukan langsung ke uterus, sehingga konsentrasinya tinggi di dalam uterus dan absorsi sistemiknya sangat kecil, sehingga konsentrasinya dalam plasma darah rendah dan efek sampingnya juga rendah. Pemberian progesteron dengan cara ini  dapat meningkatkan kadar hormon progesteron intrauterina 10 kali lebih tinggi dan konsentrasinya dalam plasma darah 7 kali lebih rendah dibanding dengan pemberian secara sistemik/intramuskuler/melalui suntikan (sumber dari sini).

Yang aku masih bingung adalah fungsi dari Ascardia yang mengandung Asam Asetilsalisilat yang berfungsi sebagai pengencer darah. Tapi ya sudahlah, diminum saja. Selain Ascardia dan Utrogestan, aku juga tetap mengonsumsi Natavit, Folic Acid, dan vitamin.

Oya, karena Dokter Anggia menyarankan agar menghindari aktivitas yang menyebabkan capek, aku (dengan saran dari orang-orang terdekat) memutuskan untuk engga ngantor selama 2 minggu ini. Daripada menimbulkan penyesalan di belakang, gitu...

Eh, terus kapan bisa tau hamil-engganya? Adalah dengan testpack pada tanggal 3 November 2013. Mohon doanya ya :)

6 comments:

  1. Amin amin..semoga berhasil yah mba Isti, dan hasil testpacknya garis dua :)

    ReplyDelete
  2. Garis dua itu yang sangat dinantikan, mba. Makasiy untuk selalu kasih dorongan semangat ya, mba dian :)

    ReplyDelete
  3. ak jadi ikut deg2an nunggu tgl 3 nov nya mb...hehehehe....semoga diberikan hasil yg terbaik...amin

    ReplyDelete
  4. Penasaran sama biayanya mba. Dan akhirnya berhasil hamil ga?

    ReplyDelete
  5. Mb nanya donk ascardia & utrogestan baiknya diminumnya pagi atau malam ya ..

    ReplyDelete