Thursday, 17 October 2013

Pemeriksaan Hormonal

Beberapa hari lalu Mr. Banker nanyain hasil tes hormonku yang udah lama banget. Udah lebih dari setahun, lah. Aku jadi pengen nge-share tentang Pemeriksaan Hormonal, seperti yang aku baca di buku "Infertil" by Vitahealth terbitan Gramedia Pustaka Utama. Ini dalam rangka dokumentasi untuk diri sendiri sekaligus dengan harapan mudah-mudahan pembaca yang mengalami hal sama sepertiku bisa terbantu. Here we go...

Penanganan infertilitas biasanya membutuhkan waktu lama, mahal, dan kadang-kadang berisiko sehingga diagnosis yang akurat sangat diperlukan. Pemeriksaan hormonal menjadi sangat penting, karena gangguan hormonal merupakan penyebab infertil yang banyak ditemukan pada wanita.

Pada saat dilahirkan, bayi perempuan telah memiliki sekitas dua juta sel telur yang dibentuk pada saat perkembangannya sebagai janin. Sel telur tersebut disimpan di indung telur (ovarium) di dalam kantung-kantung yang disebut folikel. Sebelum siap dibuahi oleh sperma, sel telur lebih dahulu mengalami proses pematangan.

Setelah sel telur matang, folikel pecah, dan sel telur dilepaskan dari indung telur ke saluran telur (tuba falopi), dan terjadilah ovulasi. Sementara itu, rahim mempersiapkan tempat untuk janin jika terjadi pembuahan, dengan cara penebalan dinding rahim (endometrium). Kini sel telur telah siap dipertemukan dengan sperma, dan di dalam saluran telur inilah terjadi pembuahan (fertilisasi). Jika sel telur tersebut tidak bertemu dengan sperma maka endometrium akan luruh, yang dikenal sebagai proses haid (menstruasi).

Seluruh proses tersebut diatur atau dikendalikan oleh hormon. Tingkat kesuburan seorang wanita dapat diketahui dari pemeriksaan hormon-hormon utama yang berperan dalam proses reproduksi tersebut. Hormon-hormon itu adalah sebagai berikut :

1. LH (Luteinising Hormone) dan FSH (Folicle Stimulating Hormone)

LH dan FSH, yang disebut juga sebagai gonadotrophin, dihasilkan oleh sel-sel gonad yang berada di kelenjar pituitari di dasar otak. Pengeluaran kedua hormon itu dirangsang oleh hormon yang lain, yaitu GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone). FSH berfungsi merangsang pematangan folikel, sedangkan LH membantu pelepasan sel telur dari folikel. Kadar LH meningkat pada hari ke-2 sampai ke-3 sebelum ovulasi. Kadar hormon tersebut juga dipengaruhi siklus menstruasi sehingga waktu pemeriksaan sesuai dengan petunjuk dokter.

2. Prolaktin

Kadar prolaktin yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sel gonad (produsen LH dan FSH), dan bila kadarnya sangat tinggi dapat menyebabkan ovarium bereaksi melawan stimulasi gonadotropin. Sebenarnya, fungsi utama hormon prolaktin adalah untuk merangsang dan mempertahankan produksi ASI (laktasi) setelah melahirkan, serta perkembangan payudara.

3. Estradiol

Berfungsi mempertebal dinding rahim untuk mempersiapkan rahim sebagai tempat bertumbuhnya janin. Sekresi estradiol juga dipengaruhi oleh siklus menstruasi. Menjelang ovulasi kadarnya sangat tinggi, tetapi setelah ovulasi akan menurun dengan cepat. Hormon estradiol diproduksi di ovarium.

4. Progesteron

Berperan memberikan pasokan darah dan nutrisi ke dinding rahim, sehingga janin dapat tumbuh dengan maksimal. Seperti estradiol, hormon progesteron diproduksi di ovarium. Kadar hormon progesteron berada di puncaknya pada suatu titik dari siklus haid. Ini menunjukkan terjadinya ovulasi. Pada siklus 28 hari, kadar progesteron tertinggi sekitar hari ke-24, yang berarti pertanda baik bahwa Anda mengalami ovulasi.

Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
Bagi wanita yang mengalami gangguan menstruasi (oligo-menorrhea) atau tidak mendapatkan menstruasi (amenorrhea), pemeriksaan hormon LH, FSH, prolaktin dan estradiol sangat penting utnuk mengetahui di mana letak gangguan yang mengakibatkan subfertilitas. Bila kadar LH, FSH meningkat dan estradiol rendah, kemungkinan ada kasus kegagalan ovarium. Bila terjadi peningkatan LH dengan FSH normal, kemungkinan ada gangguan PCOS yang menghambat pengeluaran sel telur. Bila ditemukan kadar LH, FSH, dan estradiolrendah kemungkinan terjadi gangguandi kelenjar pituitari yang merangsang pematangan sel telur.

Pada wanita subfertil yang menstruasinya teratur, pemeriksaan hormon diperlukan untuk memastikan apakah terjadi ovulasi atau tidak. Jika kadar hormon progesteron tinggi berarti terjadi ovulasi, dan pemeriksaan hormon lainnya tidak diperlukan, tetapi perlu dicari penyebab yang lain. jika kadar hormon progesteron sangat rendah berarti ada gangguan, tidak terjadi ovulasi, dan perlu pemeriksaan hormon lainnya, yaitu LH, FSH, dan prolaktin.

Just info, hasil pemeriksaan hormonalku memang menunjukkan kalo aku PCOS, yaitu kadar LH 11.30 yang mana 2 kali lipatnya kadar FSH yang cuma 5,69, padahal normalnya perbandingannya 1:1. Estradiol juga cuma sedikit, kurang dari 20, padahal normalnya 25-75.

Demikian :)

No comments:

Post a Comment