Sunday, 24 November 2013

Good Bye, Babyndut...

Dari judulnya udah keliatan gimana hasil USG Kamis tanggal 21 November kemarin. Maaf baru sempat di-update karena sibuk menata hati. Walopun aku sudah berhenti menangis, menuliskan hal ini bisa dengan mudah membuatku meneteskan air mata lagi. Sekarang, insyaAllah aku udah bener-bener ikhlas dengan semua yang terjadi dan kuat untuk menceritakan semuanya. Nangis dikit bisa dimaklumi lah, asalkan engga berkepanjangan :)

Rabu siang aku udah telpon untuk bikin appointment dengan Dr. Anggia. Tanpa disangka, malamnya aku udah ke RS aja. Ceritanya, mulai abis Maghrib, perutku yang bagian bawah sakit banget. Nyeri yang bikin aku engga bisa gerak walo cuma sedikit. Mama yang tidur di sebelahku aja kena protes kalo gerak dikiiit aja. Padahal Mama kalo tidur suka banyak gerak. Sama kayak aku siy, benernya :p

Oya, kenapa Mama tiba-tiba ada di Jakarta? Soalnya emang udah di-setting kayak gitu. Mr. Banker nemenin mulai Jumat malam sampe Senin sore. Besok malamnya Mama dateng. Secara aku engga boleh naik turun tangga, jadi kudu ada yang nemenin. Benernya aku sendirian juga engga masalah siy, cuma bingung masalah makan jadinya. Nah, padahal ini krusial banget secara lagi hamil.

Kembali ke nyeri perut yang aku rasain. Sampe nyaris jam 10 malam, rasa nyerinya engga juga berkurang. Aku nyaris engga bisa bangun dari tempat tidur. Waktu mau sholat Isya aja, aku jalan pelannn banget ke toilet trus sholat sambil duduk karena engga kuat berdiri.

Atas saran Ivna, aku sms Dr. Anggia. Eh, disuruh ke IGD (lagi!). Duh, masa iya kudu ke IGD lagi? Baru aja Sabtu kemarin keluar dari RS. Lagian Mama keberatan buat nganterin. Alasannya udah malem banget, tapi kayanya karena Mama lagi ngerasa cape.

Jadilah aku mencoba menawar ke Dr. Anggia : Kalo aku bisa nahan nyerinya sampai besok, boleh engga ke RS-nya besok aja, Dokter? Lagian aku engga ngeflek ato perdarahan kok.

Jawaban sms-nya (persis seperti aslinya) : Baik ke igd bu, karena kalo hamil di luar kandungan biasanya gak ada perdarahan keluar bu, karena perdarahannya di dalamn dan sulit dideteksi.

Aku kembali memberitahu Ivna, yang langsung menelpon taxi untuk mengantarku ke RS. Sambil menunggu taxi, aku packing sekedarnya trus ganti baju. Awalnya aku mau ke RS sendirian karena kasihan Mama juga kalo kudu nganterin, tapi trus Ratna minta nganter aja. Nanti Ivna juga nyusul.

Taxi yang udah dipesen Ivna ternyata engga muncul-muncul. Jadilah Ratna langsung lari ke jalan, mencoba mencari taxi ke jalan besar. Aku menyusulnya keluar dari rumah, jalan pelan-pelan dan terbungkuk-bungkuk. Kemudian aku menunggu di depan gang sambil duduk di pinggir pot dari semen. Kemudian Ivna muncul dengan motornya, rencana mau nyariin taxi juga.

Belakangan Ratna cerita kalo dia bukannya jalan ke pinggir jalan besar, tapi dia menghentikan seorang pengendara motor untuk minta tolong dicariin taxi, sambil cerita singkat tentang kronologis kejadian, plus dengan terengah-engah karena abis lari. Engga lama kemudian, Ivna muncul untuk menjemputnya karena dia udah dapat taxi duluan. Aku ngebayangin kalo si pengendara motor pasti cuma bengong, berusaha mencerna apa yang terjadi barusan. Hehehe...

Sampai di RS, pintu depan udah ditutup. Karena emang udah lewat dari jam 10 malam. Aku menunggu pak satpam datang mengambil kursi roda. Tak lama Ivna datang dengan motornya. Trus kita ke IGD di bagian belakang lewat gang samping RS.

Perawat yang sedang bertugas mengenaliku. "Ibu yang saya injeksi kemarin, kan?" Kemarin disini adalah saat aku ke IGD pertama kali karena sesak napas. Wah, itu kan udah 2 minggu sebelumnya! Kok mas perawatnya masih inget ya? Hmm, dipikir-pikir, bisa jadi karena dia belum pernah ketemu pasien yang motoin proses injeksi seperti aku :p

Singkat cerita, menurut pertimbangan dokter jaga yang berdiskusi via telpon dengan Dr. Anggia, aku kembali disuruh rawat inap agar selalu bisa diobservasi perkembangannya. Yang bikin malu, karena aku belum seminggu keluar dari RS, para suster di RS masih inget banget sama aku. Mereka juga udah hafal sama Ratna en Ivna yang tiap hari memang mendatangiku di RS.

Dokter jaga di IGD saat itu yang kebetulan ada 2, salah satunya adalah Dr. Anisah yang minggu kemarin udah ketemu aku di IGD, juga masih inget banget sama aku. Ingetnya detil, loh, sampe tentang Mr. Banker berada di Makassar juga beliau masih inget :D

Ratna dan Ivna menemaniku sampai sekitar jam 1 dinihari. Selanjutnya aku sendirian, seperti halnya malam pertama di minggu sebelumnya. Malam itu, tidurku tidak nyenyak. Aku engga tau apakah aku berhalusinasi atau bermimpi. Aku melihat 2 sosok tubuh, 1 besar seperti orang dewasa dan 1 menyerupai anak kecil, berjalan membelakangiku, menjauhiku. Bagiku, mereka engga kayak hantu, karena engga berpakaian putih *walo aku juga engga tau apakah hantu selalu berpakaian putih*.  Yang aku inget, pakaiannya berwarna cerah, kalo engga salah kuning. Saat tersadar, aku menatap tepat ke tempat dimana aku melihat mereka pergi. Menenangkan diri sejenak, aku melanjutkan tidur.

Tentang rasa nyeri yang aku rasakan, sampai subuh pun tetap terasa. Saat itu barulah disuntikkan obat penahan nyeri melalui katup di jarum infus tanganku. Obat penahan nyeri ini sempat bikin pusing. Kata suster, efek sampingnya memang demikian. Oh, jadi nyeri hilang berganti pusing. Baiklah...

Dari mulai datang semalam, sampai beberapa jam setelahnya, dilakukan cek darah 3 kali terhadapku. Yang pertama di lipatan siku kanan serta yang kedua di lipatan siku kiri. Keduanya terasa biasa saja. Rasa agak ngilu baru terasa saat pengambilan darah ketiga. Mungkin karena lokasinya berulang di lipatan siku kanan.

Jam 7.30an, Mama dateng dianter oleh Ivna. Lumayan, jadi ada temen ngobrol. Apalagi Mama kalo udah ngobrol emang engga ada capenya. Setelah itu secara bergantian, sahabat, teman-teman dan saudara datang. Yang mana ternyata sampe malam dan besoknya pun engga abis-abis. Bahkan sampai minggu depannya. Alhamdulillah banyak yang care dan peduli sama aku. Terharu...

Sekitar jam 1, dilakukan USG TV. Awalnya yang memasuki ruangan adalah Dr. Nando. Beliau menginformasikan bahwa Dr. Anggia sedang ada tindakan. Dr. Nando niy orangnya nyante banget. Beliau menyapa pasien kayak menyapa teman sendiri. Omongannya pun semacam, "Oh, kamu lagi program, ya?"

Selesai melakukan observasi, Dr. Nando dan suster keluar. Namun tak lama kemudian mereka muncul lagi beserta Dr. Anggia yang ternyata sudah menyelesaikan tindakannya. Observasi ulang pun dilakukan.

Hasil observasi kedua dokter adalah sama. Kehamilan ektopik yaitu janin di luar kandungan. Pada kasusku, janin tumbuh di saluran telur kanan. Di dalam rahim hanya terjadi penebalan rahim, namun tidak ada janin di dalamnya. Aku bertanya kepada Dr. Anggia, kenapa bisa terjadi demikian. 

Begini penjelasannya. Pembuahan secara alami terjadi di saluran telur. Di sepanjang dinding saluran telur terdapat bulu-bulu halus/silia yang akan bergerak dan mengalirkan telur yang telah dibuahi ke dalam rahim. Aku membayangkannya seperti di cucian mobil yang mana mobil akan bergerak sendiri. Oke, lanjut! Adanya kerusakan atau ketidaknormalan pada saluran telur menyebabkan bulu-bulu halus tadi tidak bergerak. Calon janin pun jadi macet disitu kemudian menempel pada dinding saluran. Karena bukan merupakan tempat dimana ia semestinya tumbuh, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Saluran telur tidak seperti rahim yang bisa melar, yang akan menyesuaikan dengan pertumbuhan janin. Bila sudah terlalu besar, janin akan merobek saluran telur.

Aku sempat browsing-browsing sendiri tentang kehamilan ektopik. Sebuah sumber menyebutkan bahwa janin yang sudah menjadi terlalu besar akan membuat saluran telur pecah sehingga terjadi komplikasi yang mengancam jiwa (ibunya), seperti perdarahan hebat pada organ dalam. Btw, kasus kehamilan ektopik hanya dialami 7 dari 1000 wanita. Sebagian besar kasus yaitu 95% terjadi di saluran telur, dan hanya 5% terjadi di serviks.

Lalu bagaimana cara penanganannya? Dokter memberikan 2 opsi : suntikan atau operasi. Suntikan yang diberikan yaitu berupa injeksi methotrexate yang diharapkan mampu menghentikan pertumbuhan janin serta menghancurkan sel-sel embrio yang tersisa. Nantinya sisa-sisa embrio tersebut akan diserap alami oleh tubuh.

Sedangkan opsi operasi yaitu dengan laparoskopi yaitu pembedahan untuk mengeluarkan janin. Sebelumnya pasien akan dibius total. Bila opsi injeksi ternyata tidak berhasil, pada akhirnya tetap harus dilakukan laparoskopi. Seorang teman yang sepupunya pernah menjalani laparoskopi ato disingkat LO menyebutkan, sebenarnya dengan laparoskopi, penyebab ketidaknormalan pada saluran telur dapat terdeteksi. Jika ada organ lain yang bermasalah, misalnya hati, juga dapat terlihat dari sini. Jadi sebenarnya lebih enak buat ke depannya. Tapi tetap saja, mendengar kata operasi membuatku keder.

Ayahku yang sedang berada di Malang, saat mengetahui kemungkinan operasi ini langsung mengatakan akan segera berangkat ke Jakarta untuk ikut menemani. Mama berusaha meyakinkan Ayah bahwa operasi belum tentu dilakukan, jadi engga usah ke Jakarta dulu. Mengetahui niat Ayah ini, aku jadi terharu. Oalah, segitunya, padahal cuma bedah ringan. Mr. Banker aja nyante-nyante walopun jika ternyata nantinya aku harus dioperasi. Dia percaya aku bisa kuat walo tanpa dia. Hmm, memang ya, kasih sayang orang tua dan suami itu berbeda...

Singkat kata, aku diberikan suntikan MTX di pantat. Rasanya ngilu, lebih sakit dari semua tusukan jarum yang pernah aku terima. Efek sampingnya juga bikin hampa. Sampe seminggu setelahku, perutku kadang terasa nyeri atopun kram. Mual-mual dan pusing juga masih menyertai. Dokter memintaku untuk beristirahat seminggu di rumah setelah keluar dari RS.

Aku dijadwalkan untuk konsultasi lagi seminggu setelahnya. Namun Dokter sempat mewanti-wanti, apabila sebelum jadwal yang sudah ditetapkan aku merasakan nyeri hebat (pastinya lebih hebat daripada yang aku rasakan Rabu malam yang mana menyeretku ke IGD), aku harus segera ke IGD. Bukan IGD RSU Bunda yang biasa (!) aku datangi, namun IGD RSIA-nya. Karena nyeri hebat itu pertanda telah terjadi perdarahan di dalam sehingga aku harus dioperasi saat itu juga. Yah, semoga tidak terjadi...

Hari Selasa, aku kembali menemui Dr. Anggia. Tidak sendirian karena diantar Mama. Rencana awal hari Kamis yang kemudian aku ganti menjadi Rabu. Melalui sms, Dokter mengiyakan, namun satu jam kemudian, Dokter kembali mengirimkan sms, menyebutkan adanya kemungkinan engga praktek di hari Rabu, jadi memintaku memajukan jadwal menjadi hari Selasa.

USG TV memperlihatkan kantong kehamilan masih ada, namun janin sudah tidak nampak. Alhamdulillah, tidak terjadi perdarahan di dalam sehingga operasi tidak perlu dilakukan. Kemungkinan aku hanya perlu disuntik MTX untuk kedua kalinya. Selanjutnya aku masih harus melakukan cek darah untuk melihat kadar betahcg.

Dari RSIA, aku mampir ke RSU Bunda untuk merevisi surat keterangan dokter yang akan aku serahkan ke kantor. Disana aku (lagi-lagi) bertemu dengan Dr. Anisah yang langsung meneriakkan namaku dengan excited saat bertemu. Wah, benar-benar sudah hafal rupanya! Aku mengutarakan niatku untuk kembali masuk kantor di hari Kamis. Jadi aku meminta tolong agar suratnya diganti.

Sebelum mengurus surat, Dr. Anisah menanyakan perkembangan janinku. Aku memberikan penjelasan yang pada intinya adalah dugaan tentang KET (kehamilan ektopik) yang sudah muncul dari minggu pertama aku dirawat di RS adalah benar adanya. Setelah ini, kemungkinan besar aku akan diberikan suntikan MTX kedua. Dr. Anisah menyatakan bahwa efek samping dari suntikan kedua akan lebih berat daripada yang pertama. Mual-mual dan nyeri perut akan lebih terasa. Pada akhirnya, Dr. Anisah keberatan untuk mengganti tanggal ijin di surat sesuai keinginanku. Baiklah, aku menurut.

Sebelum aku pulang, Dr. Anisah memberi saran yang menyenangkan. Aku diminta untuk bersenang-senang, liburan kemana, gitu. Kalo mau ke Makassar juga boleh banget. Intinya, aku engga boleh stres. Aneh juga, aku engga boleh ngantor, tapi sangat disarankan untuk beraktivitas lain yang bikin hepi. Yah, mungkin pemulihan psikisku sebenarnya jauh lebih penting dari pemulihan fisikku *based on my sotoy opinion*

Keesokan harinya, aku kembali ke RS untuk mengambil hasil cek darah di hari sebelumnya. Lagi-lagi ditemani oleh Mama. Sebelum ke RS, aku sempat ngajakin Mama buat nge-spa dulu loh! Eh, iki piye tho, ngantor engga, nge-spa iya! Lah, kan bersenang-senang sesuai anjuran Dr. Anisah *pembelaandiri* Rasanya nge-spa setelah 2 bulan lebih menahan diri untuk tidak melakukannya adalah luar biasa rileks :D

Btw, ini memang sedikit merusak konteks cerita, tapi tetep aku ceritain aja ya. Perjalanan ke spa dilakukan dengan busway disambung taxi. Gara-garanya, walo udah pernah ke Jakarta berkali-kali, Mama belum pernah ngerasain sensasi naik busway. Komentarnya saat berdiri berdesak-desakan di dalam busway, "Kok rasanya beda ama waktu naik MRT di Singapore ya?" Aku : "...."

Di dekat Jalan Medan Merdeka Selatan, aku melihat rombongan berjas putih yang sedang berdemo. Rupanya para dokter.

Sesampai di RS, ternyata di depan dipasang pengumuman bahwa demi solidaritas, tidak ada dokter praktek di hari Rabu, 27 November 2013.

Tentang hasil cek darahku, menunjukkan kadar betahcg yang malah mengalami peningkatan. Rabu malam kemarin menunjukkan 7820, namun sekarang (hasil cek darah hari Selasa 6 hari kemudian) malah menjadi 11982. Aku menginformasikan hal ini melalui sms kepada Dr. Anggia. Aku udah kuatir aja kalo hal tersebut menunjukkan bahwa janin masih tumbuh. Dokter menenangkan dengan menyebutkan bahwa peningkatan kadar betahcg seperti ini biasa terjadi. Namun aku harus kembali ke RS besoknya untuk mendapat suntikan MTX yang kedua.

Pulang dari RS, entah kenapa aku merasa sedikit hampa. Bolak-balik ke RS ternyata bikin cape hati. Padahal bulan kemarin aku tiap hari ke RS, sendirian, pake acara naik ojek melewati demo buruh segala, untuk mendapat suntikan Puregon, tanpa merasa lelah sama sekali. Kali ini rasanya berbeda. Bukan, bukan lelah fisik, tapi lelah batin. Kata Fiki, bisa dimaklumi siy, emosi yang dibawa saat itu dan saat ini jelas berbeda.

Kemarin-kemarin, mau disuntik sesering apa, mau ngerasain sakit kayak apa, harus masuk IGD en nginep di RS bolak-balik juga aku rela. Asalkan harapan tentang babyndut yang nantinya lahir sehat masih ada. Tapi sekarang, babyndut udah engga ada tapi aku masih harus menjalani proses pengobatan segala macem yang seakan tiada berakhir ini... Hmm, itu bikin hati merapuh.

Yah, mudah-mudahan perasaan seperti ini hanya sesaat. Aku percaya masa-masa galau seperti ini akan berlalu. Beberapa bulan ke depan, saat efek suntikan MTX -yang kata Dokter mempengaruhi seluruh tubuh sehingga kalopun aku bisa hamil alami, hasilnya akan sangat tidak bagus-ini habis, saat itu juga aku akan kembali bersemangat menghadirkan babyndut yang lain. InsyaAllah...

Pada dasarnya, aku en Mr. Banker sudah ikhlas dengan kepergian babyndut dari kehidupan kami. Kata Mr. Banker, yang penting ibunya sehat. Dia juga mengirim bbm seperti ini :
Aku menghibur diriku sendiri, entah dia sudah jadi makhluk atau belum, aku membayangkan dia sudah mendoakan kita :).

Baru tadi pagi, aku mendapat sebuah BM dari sebuah komunitas peduli sesama, seperti ini :
Tenang saja, ketika sesuatu yang kita anggap baik berakhir, ketika kita kehilangan seseorang yang kita nilai spesial, ketika sebuah kesempatan emas hilang maka, tenang saja, akan datang sesuatu pengganti yang lebih baik, seseorang yang lebih istimewa, pun kesempatan emas lainnya.
Pastikan saja syaratnya dipenuhi: bersabar.
Bagi orang-orang bersabar, selalu datang hal-hal baik sebagai pengganti hal-hal sebelumnya.
Aminnn... InsyaAllah...

14 comments:

  1. Isti..iki Tri . sabar ya...ini pasti yang terbaik buat Isti yang di kasih Allah. Fiki pernah cerita k aku ttg kehamilan isti, dan ikut sedang mendengarnya waktu itu.Jangan berhenti berharap dari Rahmat-Nya,semoga segera di asih kepercayaan lagi buat hamil lagi n punya isti kecil. Amin....Semangat

    ReplyDelete
  2. Sabar dek,,, ªќϋ jg jauh dr suami,,, apa2 sndri,,,, jg lg berharap ank kedua Ɣά♌ƍ tak kunjung dtg,,,, klo ªќϋ kena polokistik ovarium sindrom,,,, jd tdk menstruasi sama sekali,,,, tp الْحَمْدُلِلَّهِرَبِّالْعَالَمِي sudah ada ank pertama,,,, itu adlh karunia Ɣά♌ƍ begitu indah dr اللّهُ ,,n, bagi pin y dek

    ReplyDelete
  3. Mbak Isti..selama ini aq jd silent readerM tp rasane pgn berkomentar n ikut memberikan semangat..sbtlnya kejadiannya enggak jauh beda sm mas n mbak iparku yg dinyatakan hamil stlh 4th nikah, n sayangnya itu juga hamil diluar kandungan n sdh tjd pendarahan. Jd mbakku harus cesar. Yg bikin dia sedih wkt itu ya dia harus merasakan cesar tp tanpa adanya baby :( sampe sekarangpun mrk jg msh berusaha..bismillah Alloh pasti kasi jalan yg lebih mudah stlh kesulitan2 ini..Mbak Isti n Tori tetep semangat yaa..

    ReplyDelete
  4. Pelukkk Mbak Isti :*

    Sabar ya,mbak...Allah udah siapkan pengganti babyndut yg sholeh untuk mbak di kemudian hari...Aku terharu sama perjuangan punya baby, sama cerita selama hamil dan dukungan sahabat2 karibmu,,Salam ya buat 2 mbak itu ;)

    Semoga lekas sehat kembali, ceria kembali biar bisa program lagi :) Amiin

    ReplyDelete
  5. @Tri : Hai hai tri, apa kabar, masih di malang-kah? Waaah, fiki cerita2 ya? Jadi malu :p Makasiy doa dan semangatnya ya, tri. Aminnn...

    @Mba Anonim : Aku juga PCOS mba. Selain itu ASA juga tinggi. Kemarin aku berhasil hamil melalui program inseminasi buatan. Untuk pin bb, bisa di-email ke isti@istithoriqi.com, mba, nanti aku add. Moga perjuangan mba mendapatkan anak kedua segera berhasil, ya...

    @Reena : Makasiy udah jadi SR, ya, reena :-* Itu bisa pendarahan krn udah jalan brp minggu? Lambat terdeteksi, ya? Duh, sedih banget dengernya. Moga mas dan mba ipar reena segera dapat pengganti, ya. Salam buat mba-nya, biar semangat sama2. Ntar aku bilang ke tori kalo dapat semangat dari reena :) Makasiy ya...

    @Mba Putri : peluk mba putri yang lagi terharu *pukpuk juga* Iya, mba, aku bersyukur punya banyak keluarga dan teman yang care, termasuk mba putri juga tentunya ;) Salamnya udah disampein :D Makasiy semangat dan doanya, ya, mba :)

    ReplyDelete
  6. Sabar ya is, jangan lupa baca doa saat kita kena musibah.."Innalillahi wainna ila'ihi rojiun, Allohumma Jurni fimusibati wa akhlifli khoira minha" Insyaallah Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Amin..

    ReplyDelete
  7. Mbak isti... yang sabar yah *peluk*
    Insya Allah, mbak akan segera dapet gantinya babyNdut yang penting ikhlas, sabar, berusaha, & terus berdoa.
    Mbak rencanakan liburan di Makassar saja. Biar kita bisa ketemu.. :D

    ReplyDelete
  8. @Sigit : InsyaAllah, Sigit. Makasiy ya...

    @Mba Farihah : Aminnn, semoga ya, mba. Dalam waktu deket ini masih suami yang terus ke Jakarta, mba. Mungkin sekitar Februari saya bisa ke Makassar lagi. Mudah-mudahan kita bisa ketemu ya :)

    ReplyDelete
  9. *peluk Isti. Jd ikutan nangis bombay baca ini. Yg sabar ya, cantik.

    ReplyDelete
  10. Makasiy, mak dwina cantik... *peluk*

    ReplyDelete
  11. Mba Isti, baru aja keingetan dan bertanya2 dalam hati gimana kabar perkembangan janinnya mba isti yah, ko ga ada cerita lagi, eh tiba2 baca post ini, sabar yah mba isti *peluk* insyaallah akan ada babyndut yang lain yang akan hadir, semangat :D

    ReplyDelete
  12. Makasiy mba dian *peluk*
    Iya mba, moga babyndut yang lain akan hadir sebagai pengganti. Aminnn...

    ReplyDelete
  13. ya Allah.. maapkan diriku mak isti.. aku baru tau.. :((
    Aku yakin dirimu ttp sabar 'n semangat demi hadirnya babyndut yg lain.. *peluk*
    Kalau liat postingan2 stlh ini sih.. mak isti ttp ceria dan setegar baja.. hehehe
    Kalimat yg terakhir itu bkn hanya pas buat mak isti.. tp nancep jg buatkuh.. Ijin ngutip ah, buat status.. hihihi

    ReplyDelete
  14. Engga apa-apa kalo baru tau, Mak Cova.
    Ya sempat bersedih-sedih, Mak, tapi engga lama-lama. Abis itu ya kudu hepi lagi, walo kalo keinget tetep sedih, apalagi sampe sekarang proses penyembuhan fisiknya juga belum selesai :(
    Makasiy banyak atas perhatian dan doanya, ya...
    Aminn...aminn... *pelukbalik*
    Silakan dikutip, Mak ;)

    ReplyDelete