Sunday, 18 May 2014

Menulis Kebahagiaan

Ini ceritanya saya lagi bosen nulis tentang traveling. Hahaha, padahal utang cerita saya masih banyak banget! Mohon dimaafkan, ya... Saya ingat pada suatu ketika Mr. Banker protes tentang isi blog saya yang terkadang terlalu blak-blakan membuka cerita antara dia dan saya. Duh, maaf, istrimu ini memang terlalu ekstrovert. Hah, gitu doang permohonan maafnya? Hmm, engga lah.

Saya sendiri punya alasan kenapa menuliskan banyak hal tentang dia. Hal-hal yang sebagian besar merupakan hal yang membahagiakan buat saya. Sebenarnya, fokusnya bukan pada Mr. Banker, tapi pada kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan lain yang juga saya dapatkan dalam hidup ini, dari traveling misalnya, atau dari kebersamaan bersama teman-teman, juga saya tuangkan dalam tulisan-tulisan saya. Bahkan kebahagiaan yang mungkin bagi orang lain engga penting macam shopping, beli buku, juga menjadi ide tulisan saya.

menulis kebahagiaan...

Kenapa saya menuliskan momen-momen bahagia itu di blog? Kenapa saya engga menyimpannya dalam hati saja? Atau ditulis di laptop, misalnya, hanya untuk konsumsi pribadi, untuk dikenang sendiri. Awalnya saya menuliskan semuanya memang hanya sebagai pengingat kepada diri saya sendiri. Semacam diary yang akan abadi. Kalau saya merasa sedih, saya tinggal membuka-buka lembaran diary digital saya ini dan menemukan bahwa pada banyak momen, saya merasakan kebahagiaan. Di luar kaitannya dengan kesedihan dan kebahagiaan, blog ini pun menyimpan banyak info untuk saya, yang jika saya memerlukannya, saya tinggal memasukkan keyword di kolom pencarian. Hehehe...

Namun kemudian saya merasakan suatu keinginan bahwa saya berharap kebahagiaan yang saya rasakan itu menular kepada para pembaca. Berdasarkan statistik blog ini, sebagian besar pembaca yang mampir ke blog saya adalah mereka yang mencari informasi tentang pengobatan PCOS dan inseminasi. Mereka adalah orang-orang yang sedang berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan kehadiran seorang bayi dalam kehidupan pernikahan mereka. Sama seperti saya. Mereka yang ikut tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa usaha saya akhirnya berhasil namun tak lama kemudian turut menangis karena kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.

Sebuah kalimat bijak menyebutkan ini :

Remember, social comparison is the thief of happiness. You could spend a lifetime worrying about what others have, but it wouldn't get you anything.

Nyadar engga siy, dalam kehidupan sosial kita, kita disuguhi banyak hal yang memancing rasa ketidakbahagiaan dalam diri kita? Utamanya bila hal-hal tersebut tidak kita miliki. Orang-orang yang sedang mengharapkan kehadiran buah hati setelah menunggu bertahun-tahun bisa jadi akan iri melihat sebuah keluarga (ayah, ibu, anak) sedang shopping bareng di mall. Bahkan melihat potret anak-anak yang terpampang di display picture bbm, Facebook, Path, dan media sosial lainnya, juga bisa membuat mereka tidak bahagia

Sebaliknya, orang-orang yang sibuk dengan anak-anak mereka mungkin ada kalanya iri melihat pasangan suami-istri yang belum dikaruniai anak, yang masih bisa bebas kemana-mana tanpa perlu direpotkan urusan anak, yang penghasilannya cuma digunakan berdua tanpa menyisihkan dana untuk pendidikan anak, misalnya. Padahal bisa jadi pasangan yang mereka lihat itu menghabiskan banyak dana untuk menghadirkan anak yang bahkan belum tentu bisa segera mereka dapatkan. Hehehe...

Yah, intinya, rumput tetangga lebih hijau lah.

Saya menuliskan segala hal yang membuat saya bahagia adalah untuk memberitahukan kepada para pembaca, utamanya yang bernasib seperti saya, agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Apalagi merasa tidak bahagia karena belum juga dikaruniai buah hati.

Beberapa bulan terakhir, saya memang tidak pernah menuliskan postingan-postingan terkait baby program lagi. Pada saat ini saya berusaha pasrah. Saya tidak berhenti berharap, namun saya juga tidak terlalu memaksakan diri untuk meraih kebahagiaan yang satu itu. Karena saya tahu, kebahagiaan tak hanya berwujud kehadiran tangis bayi dan tawa anak-anak, namun masih banyak kebahagiaan dalam wujud lain. Seorang suami yang setia, keluarga yang selalu mendukung apapun keputusan kita, teman-teman yang menyenangkan dan perhatian, kesemuanya itu membawa kebahagiaan.

Kebahagiaan juga tidak tergantung pada orang lain, bahkan pada sosok suami yang sempurna sekalipun. Kebahagiaan bisa kita hadirkan sendiri. Dengan cara menekuni hobi yang kita sukai, misalnya. Atau dengan menyempatkan diri menikmati keindahan alam sekitar. Bersyukur bahwa kita masih bisa melihat matahari terbit di suatu pagi.

Kebahagiaan bahkan bisa didapatkan dari sesuatu yang bahkan tidak bisa dianggap sebuah momen bahagia bagi orang lain. Misalnya dengan menertawakan suatu hal bodoh yang dilakukan orang lain, dan berjanji pada diri sendiri tidak akan melakukan hal bodoh yang sama *dalam konteks ini, hal bodoh itu dilakukan oleh saya dan saya ceritakan pada pembaca :p*.

Jadi, kembali ke protesnya Mr. Banker. Setelah saya jelaskan alasan saya menuliskan tentang dia, bersama dengan tulisan-tulisan tentang bahagia dalam wujud yang lain, ia pun bisa mengerti. 

Happiness isn't getting all you want. It's enjoying all you have...

6 comments:

  1. Mak.. mau jalan2 lagi gak? ke Krakatau akhir bulan ini? sekalian baksos sama mak Nurul Noe.. :) mencari secuil kebahagiaan lagi yuk Mak.. :)

    ReplyDelete
  2. Waw, waw, pengen...Makasiy banyak udah ngajakin, Mak, tapi akhir bulan ini aku hanimun ama suami, lanjut pulkam. Mudah-mudahan ada jadwal jalan2 berikutnya yaaa....

    ReplyDelete
  3. Istiiiii...
    memang sih katanya happiness is a state of mind...
    Masalah mind set aja katanya mah :)

    dan tujuanku nge blog sih kurang lebih sama sepertimuuuu..
    Ingin mengingat momen2 penting dalam hidup kuuu...
    Kalo gak ditulis banyak lupanyaaa...

    Dan sering bongkar2 aib abah juga siiih...
    Tapi sampai sejauh ini sih dia belum protes...hihihi..

    ReplyDelete
  4. Ahaha...ternyata aku sama kayak Bibi, ya... Menulis untuk mengingat momen-momen penting, hehehe... *terharu* *halah*
    Wah, Abah memang engga pernah protes soal apapun ya, Bi. Patutu disyukuri ituh :D

    ReplyDelete
  5. Iya, Mak Myra... Biar pada hepi semuaaa... Hehehe...

    ReplyDelete