Saturday, 7 June 2014

Be Careful What You Wish For, It Might Come True

Warning :
Hati-hati, saya tidak bertanggung jawab atas ancaman kebosanan yang bisa saja melanda saat membaca tulisan tentang saya ini (benar-benar tentang saya!) :D

Dulu ketika masih duduk di bangku SMP, saya dan Olik (adik saya, waktu itu masih SD) diajak oleh Bude menginap di Hotel Hyatt Surabaya (sekarang namanya Hotel Bumi). Kebetulan waktu itu Pakde saya sedang bertugas meng-interview calon pegawai di perusahaannya yang bergerak di sektor perminyakan. Itu pengalaman pertama saya menginap di hotel. Pertama kali menginjakkan kaki di lobi, saya sudah dibuat terkagum-kagum oleh interior ruangannya. Di lobi hotel, saya sempat bertemu dengan Ita Purnamasari yang waktu itu termasuk jajaran artis nge-hits. Sayang jaman segitu belum ada HP berkamera, jadi saya engga bisa minta foto bareng. Halah, boro-boro mikirin HP berkamera, liat HP aja belum pernah kayanya >.<

Setelah malamnya saya menikmati tidur di ranjang empuk, paginya saya diajari sedikit tentang table manner, oleh Bude saya sendiri. Sebelumnya sempat bertengkar dengan Olik di kamar mandi karena saya pengen berendam di bath tub tapi sabun cairnya udah dihabisin duluan sama dia. Lagian itu anak cowo, kecil-kecil udah genit aja, pake acara berendam di bathtub segala -_- Eh, tapi sampai sekarang dia tetap suka berendam. Kesukaannya berendam itu sekarang disalurkannya di bak mandi yang lebih luas, yaitu dengan diving di laut. Hehehe...

Pengalaman menginap di hotel waktu itu sangat berkesan bagi saya. Saya sampai berpikir, wah, nanti kalau sudah besar, saya harus cari kerja dimana ya, biar bisa menginap gratis di hotel bagus seperti ini.

Tak disangka, beberapa belas tahun kemudian, berdua dengan rekan kerja saya di Malang, kami mendapat penugasan untuk menyiapkan keperluan jajaran direksi dari bank kami yang sedang ada keperluan di Surabaya. Para direktur itu menginap di J.W. Marriott. Kami berdua sempat menyiapkan keperluan di kamar suite salah satu direktur. Melihat kamar suite itu saja sudah membuat kami terpesona. Hahaha, kami memang udik.

Karena suatu alasan, kantor tidak memberi kami akomodasi di J.W. Marriott. Bisa jadi grade kami di kantor tidak memungkinkan untuk mendapat pagu senilai harga kamar termurah di J.W. Marriott. Bisa jadi juga kami memang diberi penginapan di hotel yang paling dekat dengan kantor dimana kami akan banyak berinteraksi dengan jajaran direksi tersebut. Yang mana tidak lain tidak bukan adalah Hotel Hyatt Surabaya. Namanya saat itu sudah berubah menjadi Hotel Bumi. Rekan kerja saya berseri-seri melihat kamar kami. "Bagus ya, hotelnya?" Saya hanya bisa menjawab sambil tersenyum, "Iya mba, memang bagus. Aku udah pernah nginap disini, belasan tahun yang lalu." Dalam hati saya melanjutkan, "dan saat itu pun saya sudah berharap bisa menginap disini lagi, gratis."

Hal serupa juga pernah terjadi ketika saya mendapat panggilan interview dari sebuah perusahaan produsen spare part alat elektronik di Hotel Santika Surabaya. Sambil menunggu jadwal interview, saya melongokkan kepala lewat sebuah balkon di lantai dua. Saya melihat para tamu hotel sedang sarapan di lantai bawah. Lagi-lagi saya berpikir, enak banget ya, kalo ternyata suatu saat nanti saya bisa menginap disini dibayarin oleh kantor saya (entah dimana saya akan bekerja suatu saat nanti). 

Lagi-lagi keinginan sepintas ini terwujud. Beberapa tahun setelahnya, saat saya menyantap sarapan di dekat jendela di ruang makan, saya memandang ke atas. Dan saya ingat bahwa disitu, saya yang masih seorang pengangguran pernah membayangkan bisa makan disini. Jangan lupa, gratis. Ingat, pada saat itu, keinginan saya bukan untuk menjadi seorang kaya yang bisa membayar kamar hotel, tapi untuk mendapat kamar hotel gratis.

Paragraf-paragraf di atas tadi mungkin sangat engga penting, bahkan bisa jadi saya terlihat sangat menyedihkan, bagi seseorang yang terbiasa menginap di hotel bagus (menurut saya. Mungkin malah standar aja kalo menurut mereka). Buat saya, bukan masalah hotelnya, tapi masalah keinginan *mungkin terlalu sepele untuk disebut impian* yang jadi nyata. Oya, termasuk bekerja di bank. Hal itu pernah menjadi cita-cita saya semasa kuliah. Alasannya sepele. Sepertinya bekerja di bank itu nyaman. Ruangannya ber-AC, seragamnya bagus, make up-nya keren. Belakangan saya baru tahu kalo ruangan ber-AC, seragam bagus, dan make up keren engga hanya ada di bank. Di sisi lain, tidak semua pegawai bank bekerja di dalam ruangan terus-menerus, tidak semua seragam bank itu bagus, bahkan tidak semua pegawai bisa berdandan cantik. Hehehe...

Oya, tentang interview yang tadi saya ceritakan, bagaimana hasilnya? Sebenarnya saya diterima oleh perusahaan itu. Tapi karena lokasi perusahaannya di Batam, meskipun saya akan mendapat fasilitas mess dan transportasi pulang ke Jawa setahun sekali, keluarga saya berkeberatan. Jadilah saya memutuskan untuk melepaskannya.

Lucunya, beberapa hari setelah saya seharusnya berangkat ke Batam, seorang teman mengabarkan tentang lomba modeling busana muslim yang diadakan oleh kampusnya. Oya, walo saya sudah lulus tapi saya belum wisuda, jadi masih berstatus mahasiswa. Berkat dorongan dari beberapa orang, saya pun mendaftarkan diri. Sebuah keinginan mendadak yang absurd. Padahal sebelumnya saya tidak pernah mengikuti lomba sejenis. Eh, pernah ding, waktu SMA. Pemilihan Putri Kartini, tapi saya engga dapat juara. Kalo dingat-ingat, ketika pemilihan suara di kelas memberikan voting terbanyak untuk saya mewakili kelas, saya langsung nangis di pojokan saking tidak pedenya. Sangat berbeda dengan saya di masa sekarang. Entah bagaimana proses transformasinya >.< 

Selain penilaian didasarkan pada busana yang saya kenakan, dewan juri juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk saya jawab. Pertanyaan yang saya terima saat itu, "Menurut kamu, jenius itu apa?" Jawaban saya, "Jenius adalah 1% bakat dan 99% kerja keras." Hahaha, sebagai mahasiswa Statistika, sepertinya saya hobi memasukkan perhitungan matematis bahkan dalam rangka lomba modeling! Eh, adakah yang mengira itu murni pemikiran saya? Jelas salah besar! Karena itu merupakan kalimat bijak dari Albert Einstein. Entah bagaimana juri dan para penonton saat itu sepertinya kurang mengenal Pak Einstein, jadi jawaban yang saya lempar itu mendapat applaus meriah >.<

Akumulasi dari penampilan saya di catwalk serta jawaban yang nyomot pemikiran Pak Einstein tadi ternyata membawa saya meraih juara 3. Kata teman-teman, sebenarnya penampilan saya (mungkin juga jawaban saya) adalah yang paling menarik bagi para penonton. Sayangnya, busana pinjaman dari sahabat saya yang saya kenakan kurang syar'i. Maklum, saya mengambil tema casual. Sedangkan pemenang 1 dan 2 memakai busana-busana muslim heboh yang belakangan saya tahu kalau mereka bela-belain nyewa buat ikut lomba. 

Serunya, pada saat penyerahan hadiah di malam harinya, ada sesi talkshow segala. Para pemenang lomba modeling (ada 3 orang) didudukkan di sofa yang sudah ditata sedemikian rupa di bagian kanan panggung. Dua orang MC pun membuka obrolan. Kami berada di sebuah tempat terang benderang di hadapan para penonton dengan penerangan seadanya (nyaris gelap karena outdoor). Di depan kami, kilatan-kilatan blitz kamera menyilaukan mata. Udah berasa artis aja. Saya engga ingat pasti apakah saat itu ada kamera video yang juga merekam gerak-gerik kami. Bila memang benar ada, makin ngartis aja kami bertiga. Hahaha...

Keesokan harinya, saya kembali ke kampus tersebut untuk mengambil hadiah. Penampilan saya sama sekali engga ngartis. Bener-bener biasa. Tapi sepanjang jalan menuju ke markas panitia, terdengar celetukan beberapa orang semacam ini, "Eh, itu kan mba yang menang lomba modeling kemarin." Bener-bener makin ngartis deh.

Pengalaman ini bikin saya pengen jadi artis. Hihihi, sotoy. Lomba jalan di catwalk yang bikin saya berhasil dapat juara 3 ini bikin saya jadi pengen ikut lomba modeling lagi. Seorang temen cowo mengajak saya ikut Pemilihan Kakang-Mbakyu Malang. Belum sempat mendaftar, ternyata saya diterima sebagai pegawai Bank X yang mengharuskan saya mengikuti training 6 minggu di Surabaya. Peserta diklat akan dikarantina, tidak boleh meninggalkan gedung sama sekali, meskipun hanya untuk menyeberang jalan dan membeli bakso. Jelas saya tidak bisa mengikuti ajang pemilihan bergengsi di Malang tersebut. Saya pun batal mendaftar. Oya, teman tadi Alhamdulillah lolos sampai tahap final walo akhirnya engga menang.

Impian saya jalan di catwalk lagi ternyata terwujud walau dalam format sedikit berbeda. Engga cuma satu kali, tapi beberapa kali. Pada suatu waktu pada saat perayaan ulang tahun Bank X, saya menjadi salah seorang model yang memperagakan baju dari sponsor. Pengalaman lain yaitu waktu menjadi model di Fashion Show Srikandi Blogger. Terakhir, waktu lomba Kartinian di kantor. Hihihi...

Tentang catwalk ini kayaknya engga bisa dibilang impian yang jadi kenyataan ya? Kan saya belum jadi artis :p

Ngomong-ngomong tentang kantor, di luar keruwetan yang sering bikin saya stres di kantor, terutama karena saya tidak memiliki partner dalam 1 seksi, pada dasarnya saya bersyukur karena melakukan pekerjaan terkait kehumasan yang bohong banget kalo saya bilang saya tidak menyukainya.

Selain itu, karena "wilayah kekuasaan"-nya yang luas (bisa dibilang seluruh Indonesia), saya beruntung karena berkesempatan mengunjungi beberapa daerah yang kebetulan berdekatan dengan tujuan-tujuan wisata yang sebelumnya memang saya angan-angankan untuk bisa saya kunjungi (seperti Danau Toba dan Pasar Terapung di Banjarmasin). 

Saya bahkan merasa lebih beruntung lagi karena beberapa tempat yang saya kunjungi merupakan daerah-daerah yang belum menjadi prioritas untuk saya kunjungi dalam rangka traveling. Hal ini memperluas wawasan saya. Pastinya, menambah centang di check list impian keliling Indonesia saya. Sebuah impian yang terlalu tinggi-kah? Hehehe, entahlah... Dari kecil, saya bercita-cita ingin keliling Indonesia. Cita-cita ini muncul karena saya hobi main monopoli. Eh, adakah yang punya list kota-kota mana saja yang ada disitu? Pengen bikin check list-nya deh. Sounds sotoy, tapi ini serius nanya loh ;)

sumber dari sini

Saya pernah mengatakan tentang cita-cita ini kepada Mama. Meskipun waktu itu Mama juga tidak ada gambaran sama sekali bagaimana cara saya mencapai cita-cita saya ini, Mama hanya tersenyum mendengarnya. Sebelum saya menikah, tempat terjauh yang pernah saya datangi hanya Jakarta. Saya tidak mengatakan Bali karena dari kota saya pun, perjalanan ke Bali hanya memakan waktu 10-12 jam saja. Ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan karena menikah dengan Mr. Banker, Mama berpikir bahwa mungkin inilah jalan untuk mewujudkan cita-cita saya. Mengingat bahwa besar sekali kemungkinannya bagi Mr. Banker untuk selalu berpindah unit kerja, paling tidak setiap 3 tahun, yang mana lokasinya bisa saja 1 dari banyak kota di seluruh pelosok Indonesia.

Kalo terkait profesi, sebenarnya cita-cita saya adalah menjadi penulis. Sebuah cita-cita yang tidak umum bagi seorang anak SD. Pada saat cita-cita itu muncul di benak saya, keseharian saya memang dipenuhi dengan kebahagiaan membaca buku-buku hasil karya para pengarang terkenal dunia yang dekat dengan dunia anak-anak. Saya menggemari Enid Blyton, bukan karena saya adalah penggemar serial Lima Sekawan, tapi karena saya jatuh cinta berat pada serial Malory Towers.

sumber dari sini

Oya, tentang Malory Towers ini, pernah ditulis oleh Niken TF Alimah, salah seorang kontributor di www.ibuprofesional.com :

Pondasi berpikir logis berdasar petunjuk, data, dan fakta yang tersampaikan melalui kisah petualangan seru a la Enid Blyton. Bekal pulalah yang saya dapatkan saat membaca serial Malory Towers maupun kisah pelajar-pelajar Inggris di sekolah berasrama yang ditulis Enid Blyton. Sungguh inspiratif untuk saya – terutama serial Malory Towers, melebihi kisah-kisah Lima Sekawan ataupun kisah Enid Blyton yang lain. Tentang bagaimana menciptakan aturan hidup bersama yang mengayomi semua pihak, berinteraksi dengan berbagai karakter dan kepribadian, bagaimana mengatur kamar asrama agar menyenangkan untuk dihuni bersama, dan bahkan tentang bagaimana menciptakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi waktu di asrama. Jika mengutip bahasa Nona Grayling, Sang Kepala Sekolah Malory Towers, adalah tentang bagaimana menjadi wanita yang memiliki kecerdasan berpikir, kebaikan hati, kesediaan untuk menerima tanggung jawab, bisa dicintai, dan dipercaya.
Keterangan :
Serial Malory Towers ditulis pada periode 1946-1951, terdiri dari 6 buku. Walaupun berbentuk serial, setiap buku berdiri sendiri dan bisa dibaca secara terpisah. Tokoh-tokohnya sama, sementara perkembangan setiap tokoh bisa diikuti dengan membaca serial ini secara berurutan.

Percaya atau tidak, pada saat saya duduk di bangku SD, dimana saya sering tenggelam bersama kisah Darell Rivers dan teman-temannya di Malory Towers itu, saya sudah suka menulis. Saya punya buku tulis khusus yang saya gunakan untuk menuliskan cerpen-cerpen saya. Selain cerpen, waktu itu saya sudah mulai membuat proyek novel. Hahaha, berlebihan ya? Seperti halnya buku tulis khusus cerpen, untuk proyek novel ini pun saya juga menyiapkan satu buku khusus, dimana disitu saya membuat cerita persahabatan tiga cewe. Saya tidak ingat sudah sampai bab berapa atau jangan-jangan belum ada 1 bab, saya sudah bosan. Dan cerita persahabatan tiga cewe itu pun terabaikan begitu saja. Seingat saya, sebagian besar waktu penulisan dihabiskan hanya untuk mengarang nama lengkap tiga cewe tersebut >.<

Pada saat menginjak bangku SMP, Ayah menghadiahkan sebuah mesin ketik untuk mendukung hobi saya menulis. Beberapa cerpen yang sudah saya tulis saya ketik ulang dengan penuh semangat. Kemudian saya kirimkan ke Majalah Bobo. Setelah beberapa  bulan saya mendapat balasan : sebuah surat berisikan ucapan terima kasih dilampiri lembaran-lembaran cerpen saya. Jadi, intinya tulisan-tulisan saya ditolak. Belakangan saya tahu bahwa penulis-penulis cerpen yang ada di Majalah Bobo adalah orang dewasa. Yah, meskipun saya berusaha mencontoh gaya penulisan mereka dalam membuat cerpen, tetap saja kedalaman ide saya masih jauh untuk bisa membuat karya yang pantas untuk dimuat di sebuah majalah. 

Mengetahui cerpen-cerpen saya kurang berkualitas, saya pun banting setir. Saya mencoba menulis beberapa kisah pendek tentang pengalaman sehari-hari. Seperti yang saya tulis di blog ini, hanya saja seputar dunia anak SD, dunia saya waktu itu. Saya masih ingat salah satu tulisan saya yang berjudul "Buku Yang Hilang" dimuat di Majalah Bobo. Keesokan harinya, teman-teman dekat yang berlangganan Majalah Bobo heboh karena membaca cerita yang di dalamnya memuat nama-nama teman yang mereka kenal. Hahaha... Kebiasaan saya untuk tidak membuat nama samaran untuk tokoh yang saya tulis memang sudah berlangsung sejak jaman SD.

Apa yang saya dapat dari dimuatnya tulisan tersebut? Adalah sebuah kaos kuning bergambar Oki dan Nirmala.

sumber dari sini

Saya masih ingat benar, merk kaosnya C59. Bukan kaosnya yang membuat saya bangga, tapi melihat nama saya ada di majalah, itu yang membanggakan. Saya menyesal tidak menyimpannya, atau menjadikan semacam kliping, bahkan kalo perlu melaminatingnya.

Menginjak bangku SMP dan SMA, entah kenapa saya vakum untuk menulis. Saya lebih memilih untuk menekuni dunia filateli. Aktif sebagai anggota Perkumpulan Filatelis Muda Malang meskipun hanya sebatas ikut pertemuan. Tidak hanya prangko yang saya koleksi, saya juga mengoleksi barang-barang filateli lain seperti souvenir sheet dan Sampul Hari Pertama. Selain itu, saya paling suka kalau PT Pos Indonesia menerbitkan prangko yang jika kita membeli 1 lembar besarnya, deretan prangko yang ada disitu seperti bercerita. Menurut saya ide ini keren sekali.

prangko seri cerita rakyat 1998

Mengingat setiap bulan ada saja prangko baru yang terbit, disitulah uang saku saya dihabiskan. Waktu luang yang ada pun saya isi dengan kegiatan memberi sampul plastik pada koleksi saya, demi menjaganya agar tidak tetap awet dan tidak lekang oleh waktu. Di luar waktu untuk berkutat dengan koleksi, saya menghabiskan waktu untuk bergaul dengan teman-teman dan juga dengan pegawai Kantor Pos. Hahaha, teteup... Si Bapak pegawai itu bahkan menyempatkan untuk mengirimkan kartu lebaran kepada saya selaku tamu setia Pojok Filateli. Via pos, tentunya. Entah mengapa, hobi filateli ini terhenti menjelang kenaikan kelas 3 SMA. Mungkin uang saku yang ada lebih saya prioritaskan untuk hedon. Hahaha...

Bicara tentang prangko, saya baru ingat kalau terakhir saya ke Kantor Pos adalah untuk memesan prangko Prisma (PRangko Identitas Milik Anda) bergambarkan foto saya dan Mr. Banker.

contoh Prisma (sumber dari sini)

Rencananya prangko-prangko ini akan saya pakai untuk mengirimkan undangan pernikahan kami ke luar kota. Sayangnya, kesibukan mempersiapkan pernikahan membuat saya lupa untuk mengambil pesanan saya ini. Maklum, saya tidak menggunakan jasa EO untuk pernikahan saya. Saya berusaha menyiapkan semuanya sendiri mulai dari undangan sampai tanda terima kasih untuk para among tamu dan panitia yang bertugas selama resepsi.

Saya menunggui desainer undangan untuk memastikan tidak ada kesalahan pengetikan, sampai ke titik-komanya. Saya juga memesan customized guest book. Asal tahu saja, 4 buku tamu yang saya gunakan ber-cover foto kami berdua. Tentu saja tiap halamannya juga ada foto kami. Saya bahkan mencetak sendiri papan untuk tempat tanda tangan serta pesan-kesan dari para tamu di Digital Printing. Tentu saja ada foto kami disana. Saya memang narsis. Untungnya Mr. Banker tidak banyak protes. 

Saya memang perfeksionis. Saya bahkan menangis di mobil pengantin yang membawa saya ke gedung resepsi karena saya bingung bagaimana menghubungi sopir mobil sewaan untuk mengantar ibu mertua dan adik ipar saya yang belum selesai dirias. Walaupun segala hal saya urus sendiri, untuk urusan mobil memang dibantu oleh Ayah. Sayangnya saya lupa meminta nomor kontak si sopir. Saya membuat Mba Evi, perias yang mendampingi saya ikutan stres karena kuatir saya akan merusak riasan mata saya. Padahal selama saya menangis di mobil, si sopir ternyata menunggu di dalam mobil di luar salon. Hanya saja saya tidak tahu di mobil yang mana.

Alhamdulillah tetep keliatan sumringah pas nyampe gedung

Mba Evi yang mana suaminya adalah penyedia jasa dekorasi pernikahan saya bahkan masih ingat kalau beberapa hari menjelang resepsi, saya datang ke rumahnya untuk menitipkan pengharum toilet, sabun cair beserta tissue sekaligus kotaknya. Untuk apa? Adalah untuk diletakkan di toilet gedung resepsi.

Pada saat Olik menikah Februari lalu, saya ingat untuk membawakan perkakas semacam itu ke gedung, sampai kemudian saya menyadari bahwa saya tidak tahu dimana toiletnya berada, dan bahwa tim dekorasi juga sudah pulang. Para among tamu memandang saya dengan bingung ketika saya bilang bahwa saya membawakan tissue dan pengharum toilet.

Mr. Banker yang menyadari situasi aneh yang terjadi langsung menarik saya. "Ya sudahlah, bawa pulang lagi saja. Ingat, resepsi ini gawenya keluarga cewe. Kita engga usah ikut campur." Oh, iya, saya baru sadar kalau saya sudah akan mencampurinya terlalu jauh. Juga terlalu aneh >.<

Eh, ini gimana bisa ceritanya jadi melebar sampai ke pernikahan ya? Gara-gara prangko Prisma, niy. Btw, apa kabar prangko saya yang tidak terambil ya? Mungkin sudah dimusnahkan oleh pihak kantor pos. Hehehe...

Sempat berhenti menulis semasa SMP dan SMA, saya kembali menikmati hobi menulis di bangku kuliah. Yaitu menulis penjelasan dosen. Serius! Teman-teman bilang, catatan saya paling lengkap. Terlalu lengkap karena saya bahkan menulis hal-hal yang hanya diceritakan sepintas oleh dosen saya. Kalau perlu, quote keren yang diucapkan dosen pun saya tulis. Sebagai pengingat bahwa apa yang saya tulis sedikit melenceng dari materi, saya menuliskan tanda bintang di depannya. Satu bintang, dua bintang, dan bintang-bintang di langit pun jadi menghiasi catatan saya tentang perkuliahan.

Meskipun lengkap, catatan saya kurang menarik untuk dibaca. Tulisannya jelek, siy. Hahaha... Sayang sekali jama dahulu belum ada Tab untuk mengetik penjelasan dari dosen. Emm, kalopun ada, bakal jarang kepake juga siy. Secara saya kuliah di Statistika, jadi banyak simbol matematis yang aneh mewarnai catatan-catatan saya. Sepertinya ribet kalau saya harus mengetikkan simbol-simbol itu di Tab. Jadi, abaikan saja perandaian tadi.

Saya juga suka menulis pengalaman sehari-hari. Seperti halnya tulisan di masa SD yang dimuat di Majalah Bobo, tulisan pengalaman masa kuliah ini pun dimuat di rubrik Aime, yaitu rubrik remaja di Jawa Pos. Hadiahnya freepass nonton di 21. Hmm, sepertinya tulisan saya yang menarik untuk dibaca memang yang berhubungan dengan pengalaman nyata. Hahaha...

Kembali ke impian dan cita-cita. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit saya bisa mewujudkan cita-cita saya keliling Indonesia, digabung dengan cita-cita saya menjadi penulis. Itu pun kalo memang ada yang menganggap saya penulis. Hihihi...

Tentang keliling Indonesia, sebagian besar tentunya dengan biaya sendiri. Penempatan saya di Jakarta (yang dulunya saya sesali) ternyata ikut berperan dalam mewujudkan impian saya itu. Apa lagi kalau bukan karena rute penerbangan yang sebagian besar berujung di Bandara Soekarno Hatta?

Faktor LDR turut mempengaruhi saya untuk bisa mewujudkan hobi traveling. Tidak bertemu suami setiap weekend menyebabkan saya jadi memiliki hari-hari libur yang dihabiskan sendirian. Parahnya, pemanfaatan waktu senggang sendirian ini makin merajalela. Long weekend yang seharusnya dihabiskan bersama suami akhirnya malah saya pakai untuk traveling juga. Meskipun suami saya kadang sebel dengan keputusan sepihak ini, Alhamdulillah ia tetap memberi ijin. Thx a lot, Hunnie hunnie *tetep ngucapin makasih disini walopun engga yakin dia baca tulisan ini*

Faktor belum ada anak juga turut berpengaruh. Waktu saya lebih banyak untuk diri sendiri. Demikian juga uang saya. Meskipun demikian, sudah punya anak pun tidak selalu menghambat keinginan untuk traveling. Lihat saja Ivna. Walo tetap saja, dengan adanya anak, pemilihan tempat traveling pun jadi agak terbatas. Tapi itu kembali ke soal selera siy. Ivna memang menyukai tempat-tempat fancy. Beda dengan saya yang nyaris tidak ada batasan akan lokasi traveling yang disukai atau diinginkan. Mr. Banker bahkan punya rencana jika kita dikaruniai anak kelak, dia akan langsung diperkenalkan dengan gunung. Minimal Bromo lah, di usia satu tahun. Pastinya dia bakal diajakin offroad juga kemana-mana. Hehehe...

ntar diajakin molor bareng di mobil kayak gini :p

Masalah lokasi ini pun sempat muncul dalam pembicaraan saya dan Ibu Bos beberapa saat lalu di sebuah unit kerja di bilangan Kalibata. Kami sedang membahas surat dari stakeholder yang tindaklanjut ke depannya adalah akan ada kunjungan ke lokasi perkebunannya. Saya pun bercerita kalau saya sempat ke perkebunan sejenis di pelosok Jambi. Saya menginap di mess perusahaan, karena jelas tidak ada penginapan di sekitar sana. Air yang ada di kamar mandi berwarna coklat. Sampai-sampai disana disediakan Aqua galon untuk menggosok gigi.

Pada sore hari setelah kami tiba, saya langsung mandi. Pada saat berkumpul dengan 2 rekan kerja saya yang lain untuk makan malam, mereka menyatakan bahwa mereka tidak tega untuk mandi demi melihat kondisi airnya yang seperti itu. Saya bengong. Mengingat saya anggota cewe satu-satunya dalam tim tapi saya tetap mandi dengan menggunakan air itu. Hahaha, jorok ya... Abisnya mau engga mandi juga engga nyaman, secara badan udah lengket karena sebelumnya mampir ke beberapa lokasi perkebunan lain.

Ibu Bos langsung komentar semacam ini, "Yah, kalo kamu siy, kayanya seneng-seneng aja mba, ke tempat-tempat jauh dengan kondisi seperti itu, secara kamu suka traveling!"

Btw, kelanjutan dari rencana kunjungan ke perkebunan itu adalah besok Senin saya akan blusukan ke beberapa lokasi perkebunan di Kalimantan Barat, berakhir di Sintang. Sepertinya perjalanannya akan berat. Bahkan pegawai kantor pusat dari perkebunan itu menyatakan bahwa dia engga sanggup menemani tim kami ke Sintang. Perjalanan 12 jam dengan kondisi jalanan seperti baru kejatuhan batu meteor dimana-mana bikin beliau yakin kalo bakal KO. Yah, beginilah nasib pegawai yang suka traveling. Penugasannya ke daerah yang medannya lumayan berat. Hehehe... Tapi engga apa-apa. Enjoy aja, kalo kata Clas Mild #bukaniklan

Oke, sekian cerita saya tentang beberapa impian dan cita-cita yang ternyata bisa terwujud. Hidup memang penuh misteri...

NB :
Di tengah menulis postingan ini, saya bete setengah mati gara-gara pulsa Telkomsel saya sebesar 75ribu tersedot habis hanya dalam waktu 5 menit. Yah, emang salah saya juga siy, telat perpanjangan. Oke, awalnya saya ngira bakal ada perpanjangan otomatis. Pada intinya, tetep aja saya sebel berat >.< #curcol #abaikan

2 comments:

  1. Eh ada namaku disebut..aduh gimana ya mba klo ga di hotel berbintang kejora tu eike suka gatel2 gitu...hahaha
    Sebenernya lebih krn blm berpengalaman ya klo di tmpt2 yg krg fancy, tar kali ya klo jam terbang uda tinggi nyobain di tmpt2 yg menantang...hihiii

    ReplyDelete
  2. Hahaha...jadi penasaran gimana ntar cerita pengalaman tentang mess-mess perkebunan yang bakal kamu inepin beberapa hari ini :D

    ReplyDelete